Peredaran Uang Selama Pemilu Melambat, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Berbagai pengamat telah menyebutkan peredaran uang selama pemilihan umum (pemilu) tahun 2024 ini relatif melambat. Salah satunya ialah Direktur Utama PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi.
Menurut Ibrahim, salah satu alasan mengapa peredaran uang relatif melambat yakni kampanye anti politik uang yang begitu kuat.
"Peredaran uang pemilu kecil, akibat iklan politik uang begitu kuat. Membuat para caleg dan tentu peserta pemilu sedikit mengerem mengedarkan uang," ucapnya kepada investortrust.id, Kamis (15/02/2024).
Selain itu, ia berujar suku bunga acuan yang tinggi menjadi salah satu alasan mengapa daya konsumsi masyarakat serta uang yang beredar secara luas relatif melambat.
Baca Juga
"Konsumsi ikut menurun akibat tidak mau ambil kredit. Kenapa tidak mau ambil kredit? Ya karena bunga tinggi," ujarnya.
Ia mencontohkan mayoritas pelaku UMKM justru tidak terlalu merasakan dampak dari euforia pemilu 2024.
"Banyak pedagang kecil sepi, mengindikasikan peredaran terlambat,"
Saat ini suku bunga acuan atau BI rate berada di level 6,0%. Namun ia memprediksi setelah rangkaian pemilu usai Bank Indonesia (BI) akan menurunkan suku bunga acuan, atau tepatnya mengikuti arah kebijakan The Fed.
Baca Juga
"BI akan menurunkan suku bunga lebih besar dibanding The Fed. Kemarin BI mempertahankan suku bunga ada kemungkinan besar mengikuti arah kebijakan (The Fed)," tandasnya.
Pria yang dikenal sebagai pengamat rupiah tersebut juga berharap daya konsumsi masyarakat meningkat setelah pemilu seiring dengan kepastian keberlanjutan program pemerintah.
"Setelah pilpres banyak bansos yang beredar, suku bunga diturunkan, pengusaha bergairah. Harapannya uang beredar lebih banyak dan gairah daya beli masyarakat juga meningkat," imbuhnya.
Namun ia juga menyarankan publik untuk tetap menunggu rilis resmi dari BI perihal jumlah uang beredar pada Januari, khususnya bulan Februari 2024.
Baca Juga
Sementara itu, dilansir dari laman BI, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2023 sebelumnya mengalami tumbuh positif. Posisi M2 pada November 2023 tercatat sebesar Rp8.573,6 triliun atau tumbuh 3,3% (yoy), relatif stabil dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya.

