Menteri ESDM Tegaskan Ketahanan Energi Jadi Fokus Utama
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyampaikan, ketahanan energi menjadi fokus utama saat memimpin sidang anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yang kedua tahun 2024.
Sidang anggota DEN tersebut membahas isu strategis di bidang energi, di antaranya ialah membahas ketahanan energi Indonesia, antisipasi terhadap kondisi krisis dan/atau darurat energi (KRISDAREN) dampak memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, serta Rencana Umum Energi Daerah (RUED).
Arifin menyebutkan bahwa ketahanan energi Indonesia berada pada level 6,6. Hal itu mengindikasikan tingkat status ketahanan energi Indonesia berada pada dalam posisi ‘Tahan.’ Status tersebut didapatkan berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
"Ada beberapa kriteria poin, yaitu availability, accessibility, affordability, dan acceptability. Ini perlu kita evaluasi lagi pembobotannya apakah memang sudah merefleksikan kondisi yang ada," kata Arifin Tasrif dalam keterangannya, Sabtu (20/4/2024).
Baca Juga
Pertamina Ungkap 3 Strategi Peningkatan Produksi Migas, Utamakan Kemitraan Operasi
Lebih lanjut, Arifin membeberkan faktor-faktor yang akan memperkuat indeks ketahanan energi nasional tersebut, yaitu dari sisi availability bagaimana Indonesia bisa mengeksploitasi sumber-sumber migas yang sudah bermunculan.
Dia menyebutkan seperti misalnya pada lapangan minyak bumi Clastic di Cepu, sumur Migas Non Konvensional (MNK) di Rokan, serta yang terbaru adalah di Buton dengan potensi minyak yang cukup besar.
"Untuk gas kita masih ekspor cukup banyak, sekitar 25% dari total produksi hampir 1 juta barrel oil equivalen, potensi gas baru seperti Masela akan beroperasi pada tahun 2030, kemudian Geng North yang akan berproduksi tahun 2027, masih ada juga Andaman dan lainnya," ujar dia.
Baca Juga
Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Pertamina – ENI Teken MoU Kerja Sama Pengelolaan Hulu Migas
Pemerintah sendiri juga dikatakan oleh Arifin, tengah mengakselerasi program konversi diesel ke gas, mengingat penggunaan bahan bakar diesel yang cukup besar, yakni sekitar 3 juta Kilo liter (KL).
Selain itu, konversi kendaran roda dua berbasis bensin menjadi listrik juga telah dijalankan oleh Kementerian ESDM, namun masih belum berjalan dengan optimal.
"Kita punya program konversi motor listrik dari combustion ke baterai, hanya kita butuh dukungan untuk bisa mendapatkan alokasi subsidi bantuan untuk dapat mendorong konversi dari masyarakat," papar Arifin Tasrif.

