Ketahanan Energi Jadi Fokus Utama Industri Hulu Migas
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyebutkan, dunia sedang menghadapi tren baru yang mengadaptasi penggunaan energi bersih dan energi terbarukan. Maka dari itu, industri hulu migas juga dituntut untuk mengaplikasikan tren tersebut.
Arifin menerangkan, keberadaan gas bumi dapat menjadi solusi dalam penyediaan energi bersih demi mencapai target Net Zero Emission di 2060 atau lebih cepat. Selain itu, guna menjawab tantangan penggunaan energi bersih di masa depan maka para pelaku usaha hulu migas harus mengimplementasikan strategi untuk menekan emisi.
"Ini dilakukan melalui penerapan teknologi seperti CCS/CCUS. Untuk mendukung pengembangan teknologi CCS/CCUS, pemerintah juga telah mengeluarkan dua regulasi. Saat ini sudah ada 15 proyek CCS/CCUS dengan total potensi penyimpanan mencapai 500 gigaton CO2,” kata Arifin Tasrif dalam acara IPA Convex 2024 di ICE BSD, Selasa (14/5/2024).
Baca Juga
Kementerian ESDM Buka Lelang 5 WK Migas, di Mana Saja Lokasinya?
Arifin menekankan semua rencana dan proyek hulu migas akan bisa terwujud dengan adanya kolaborasi semua pihak. Untuk itu, kegiatan IPA Convex 2024 diharapkan menjadi jembatan kolaborasi yang mampu memaksimalkan potensi sumber daya migas yang diyakini masih besar.
"Sangat penting meningkatkan kolaborasi, kemitraan untuk menghadapi tantangan di industri hulu migas yakni memenuhi kebutuhan energi sekaligus menekan emisi. Saya undang semua untuk secara aktif berkontribusi meningkatkan investasi, cadangan migas serta mewujudkan target penurunan emisi," ujarnya.
Sementara itu, Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA) Yuzaini bin Md Yusof, mengungkapkan transisi energi akan terus berjalan. Namun, dalam kurun waktu menunggu kesiapan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), sektor hulu migas bakal memainkan peranan penting sekaligus terus bertransformasi menekan emisi karbon.
“Upaya memangkas emisi gas rumah kaca harus diintensifkan dalam kegiatan operasi produksi. Meskipun ini menimbulkan tantangan teknis dan komersial yang cukup signifikan dan butuh perhatian khusus," sebut Yuzaini.
Baca Juga
SKK Migas Ungkap Tren Dunia di 2024 yang Bisa Pengaruhi Kinerja Hulu Migas
Yuzaini juga menyampaikan bahwa para pelaku usaha mengapresiasi upaya Pemerintah Indonesia yang telah menyiapkan regulasi khusus untuk penerapan CCS/CCUS melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2023 serta Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2024.
“Regulasi tersebut merupakan yang pertama di kawasan Asia sehingga membuat Indonesia jadi negara terdepan dalam penerapan CCS. Yang dibutuhkan Indonesia sekarang pelaksana peraturan," terang dia.
Ia menyampaikan, dalam tiga hari pelaksanaan IPA Convention and Exhibition 2024 diharapkan bisa melahirkan berbagai inovasi serta diskusi membangun tentang penerapan teknologi CCS maupun berbagai kegiatan eksplorasi produksi demi mencapai tujuan mewujudkan ketahanan energi Indonesia.
Baca Juga
Paparkan Kinerja 2023, Dwi Soetjipto: Investasi Hulu Migas Capai US$ 13,7 Miliar

