Rupiah Terdepresiasi, Ekonom: Masyarakat Tak Perlu Khawatir
JAKARTA, investortrust.id – Belum turunnya suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Fed funds rate (FFR) telah mendorong penguatan nilai tukar dolar AS terhadap semua mata uang dunia, termasuk rupiah. Keperkasaan dolar AS tecermin dari pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh level Rp 16.000 per dolar AS di pasar spot hari ini, Selasa (2/4/2024).
Indeks Dolar AS (DXY) tercatat telah menguat di atas 104, sehingga mendorong investor mengalihkan portofolionya ke instrumen berdenominasi dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, penguatan dolar AS terus dipantau oleh otoritas Bank Sentral. Menurut analisnya, Bank Indonesia (BI) akan terus melakukan langkah-langkah stabilsasi.
“Seperti triple intervention di pasar spot USD/IDR, pasar Domestic Non Deliverable Foward/DNDF (derivatif valas terhadap rupiah) dan pasar obligasi,” kata Josua, kepada investortrust.id, Selasa (2/4/2024).
Selain itu, kata Josua, BI juga terpantau mengoptimalkan penguatan strategi operasi moneter yang pro-market. Di antaranya, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
Baca Juga
Penguatan Indeks Dolar Tekan Rupiah Mendekati Rp 16 Ribu/USD
“Dengan berbagai langkah stabilisasi tersebut, dalam jangka pendek ini rupiah diperkirakan akan cenderung stabil di kisaran Rp 15.900-an,” ujar dia.
Josua menilai dampak melemahnya rupiah ini tidak akan memberi dampak ke daya beli masyarakat. Ini beralasan karena masyarakat yang memiliki pendapatan dan pengeluaran dalam rupiah tidak memiliki dampak dari pelemahan rupiah.
“Oleh sebab itu, masyarakat pun juga tidak perlu khawatir dengan dampak dari pelemahan rupiah terhadap daya beli masyarakat,” kata dia.
Sementara itu ekonom Universitas Diponegoro (Undip) Wahyu Widodo berharap tekanan rupiah tak terus terjadi. Sebab, kenaikan dolar AS akan berimbas pada biaya impor bahan baku industri (barang modal). Porsi impor bahan baku industri ini cukup besar dan risiko rambatan berupa biaya produksi yang meningkat dapat terjadi.
“Terutama di industri dengan ketergantungan impor tinggi antara lain, industri kimia, tekstil dan produk tekstil, serta sebagian industri padat modal lain,” ujar Wahyu.
Wahyu mengatakan melemahnya rupiah juga perlu dimanfaatkan dengan ekspansi ekspor produk Indonesia. Namun, kondisi ini tak memungkinkan karena daya beli global sedang turun. “Sehingga tidak memberikan windfall yang besar,” ujar dia.

