Pola Bisnis, Perdagangan, dan Investasi Sedang Berubah di Seluruh Dunia, Ini Pesan Gubernur BI
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengingatkan, fragmentasi dan pergeseran siklus ekonomi global yang berlangsung saat ini telah mengubah pola bisnis, perdagangan, dan investasi di seluruh dunia.
“Lanskap global berubah akibat fragmentasi dan pergeseran siklus. Dalam siklus baru itu, India akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global,” ujar Perry Warjiyo dalam focus group discussion dengan para pemimpin redaksi media massa bertajuk “Sinergi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Nasonal” di Bandung, Sabtu (03/02/2024).
Baca Juga
Perry Warjiyo Sebut Ekonomi Dunia Sedang Mengalami Fragmentasi dan Perubahan Siklus, Apa Maksudnya?
Menurut Perry, seiring perubahan siklus tersebut, pola ekonomi pun berubah, termasuk di bidang perdagangan dan investasi. “Itu semua akan berpengaruh pada pola perdagangan dan pola investasi. Ibarat roda, semuanya muter. Kalau sumber ekonomi muter, ya arus dananya juga akan muter,” tegas dia.
Yang berbeda, kata Perry Warjiyo, adalah demografi. Negara-negara maju tengah memasuki fase populasi yang menua (aging population). Namun, perubahan demografi di negara-negara maju akan banyak dipengaruhi migrasi penduduk dari negara-negara berkembang, seperti India dan negara-negara Afrika.
“Aging population bisa mendorong penolakan imigrasi, atau sebaliknya justru menerima. Ini juga bisa memengaruhi tensi sosial politik di negara-negara bersangkutan, bahkan berpengaruh pada pola pemilu di 54 negara,” tutur dia.
Perry Warjiyo menambahkan, fragmentasi dan perubahan siklus ekonomi pada akhirnya turutmemengaruhi kompetisi dalam memperebutkan lapangan kerja yang kian sempit di negara-negara maju. Alhasil, kini muncul tendensi anti-imigran atau anti-orang asing di negara-negara maju.
Tak mengherankan, menurut Perry, jika para peserta pemilu di berbagai negara saat ini lebih populis, bahkan cenderung ultra-nasionalis. “Intinya, masalah demografi berpengaruh tidak hanya kepada urusan sosial saja, tetapi juga pada fragmentasi ekonomi keuangan,” ucap dia.
Perry mengemukakan, jika ditelaah lebih lanjut, kebijakan uang ketat (tight money policy) yang diterapkan negara-negara maju pun ada kaitannya dengan masalah demografi.
“Karena terjadi aging population, saving masyarakat di negara-negara maju kan rendah banget. Maka kenapa kemudian suku bunga berlipat ganda lebih tinggi di negara-negara maju. Jadi, semua itu nyambung gitu,” papar dia.
Baca Juga
Daya Saing Investasi
Gubernur BI mengakui, perubahan siklus dan fragmentasi ekonomi global ikut mempengaruhi daya saing investasi, baik investasi portofolio maupun investasi langsung. Indonesia, misalnya,sudah menjadi salah satu tujuan investasi portofolio paling menarik di dunia.
“Portofolio kita sudah bersaing dengan negara-negara maju karena negara maju butuh dana untuk membiayai wong tuo-tuo,” tandas dia.
Perry Warjiyo menjelaskan, perubahan demografi tak hanya mendorong polarisasi ekonomi dan polarisasi keuangan, tapi juga polarisasi digital. “Digitalisasi pun mengalami polarisasi, seluruh negara melakukan digitalisasi. Intinya,tiga hal sedang terjadi pada pola perubahan ekonomi dan keuangan global, yaitufragmentasi pada ekonomi keuangan, demografi, dan digitalisasi,” tegas dia.
