Indonesia Butuh RPJPN untuk Lolos ‘Middle Income Trap’, Ini Alasannya
JAKARTA, Investortrust.id - Ekonom yang juga Menteri Keuangan RI, 2014-2016, Bambang Brodjonegoro menyebut Indonesia memerlukan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap). RPJPN, kata Bambang, diperlukan karena kompleksitas wilayah Indonesia.
“Tantangan Indonesia untuk jadi negara maju lebih berat karena luas wilayahnya yang besar, penduduknya yang banyak, juga wilayahnya kepulauan,” ujar Bambang, saat menjadi pembicara di RDPU Rancangan Undang-Undang Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RUU RPJPN) 2025-2045, Badan Legislatif DPR RI, dipantau daring, Rabu (13/3/2024).
Bambang mengatakan berdasarkan data Bank Dunia, banyak negara gagal yang menjadi negara maju. Berdasarkan 101 negara berpendapatan negara menengah pada 1960, hanya 13 yang jadi negara maju pada 2008.
“Hampir 50 tahun, hanya 12,87% yang lolos menjadi high income countries,” ujar dia.
Baca Juga
Seperti Jepang dan Korsel, Indonesia Harus Manfaatkan Bonus Demografi Sebelum Masuki Usia Penuaan
Sebanyak 13 negara yang lolos menjadi negara maju tersebut, kata Bambang, di antaranya Hongkong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Israel, Yunani, Portugal, Spanyol, Irlandia, Mauritius, Guinea Khatulistiwa, dan Puerto Rico.
Meski demikian, Bambang memperhatikan dari 13 negara yang lolos ini, hanya Jepang, Korea Selatan, dan Spanyol yang memiliki ekonomi cukup besar.
“Yang lain bisa dikategorikan negara-negara kecil (wilayahnya) dibanding kita,” ucap dia.
Bambang mengatakan memiliki kemudahan menggapai pendapatan per kapita besar. Dia menyebut negara dengan luas wilayah kecil dapat menjadi business hub.
“Seperti Singapura atau Mauritius, atau yang punya sumber daya alam melimpah seperti Guinea Khatulistiwa,” kata dia.

