Konflik Timur Tengah Merintang, Mampukah Target Pertumbuhan Ekonomi 5,2% Digapai?
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) periode 2014-2016 Bambang Brodjonegoro menyebut target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 sebesar 5,2% akan mengalami rintangan berat di tengah konflik Iran-Israel yang memanas. Eskalasi konflik, kata Bambang, dapat mengubur target tersebut.
“Kalau eskalasi ini lebih besar dan lebih lama dan membuat gamang banyak pihak, mungkin target 5% akan challenging,” kata Bambang saat menjadi pembicara di Ngobrol Seru Dampak Konflik Iran-Israel ke Ekonomi RI yang digelar Eisenhower Fellowships Indonesia Alumni Chapter dengan IDN Times, yang digelar daring, Senin (15/4/2024).
Menurut Bambang, konflik Iran-Israel dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia ke rentang 4,6-4,8%. Dia menjelaskan, satu-satunya penopang pertumbuhan ekonomi tersebut berasal dari konsumsi dalam negeri.
“Keseimbangan eksternal yang terganggu ditambah potensi inflasi, ditambah sumber-sumber pertumbuhan kita sangat bergantung pada konsumsi dalam negeri,” kata dia.
Baca Juga
BKPM Tunggu Arahan Presiden Terkait Langkah Antisipasi Konflik Iran-Israel
Salah satu harapan yang tersisa dari mesin konsumsi dalam negeri yaitu pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang rencananya digelar 27 November 2024. Pilkada 2024 ini akan diikuti 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota.
Meski demikian, Bambang ragu belanja pada pilkada serentak 2024 tersebut dapat menggerakkan perekonomian. Alasannya, berkaca pada pemilu dan pemilihan presiden 2024, terdapat perbedaan mencolok dari proses belanja yang dilakukan.
“Pemilu saat ini agak beda karena pemilu sekarang ini orang main di media sosial. Jadi tidak banyak dampak konsumsi di luar konsumsi data dan internet,” ujar dia.
Dampak Inflasi
Bambang mengatakan, perang Iran-Israel juga memicu inflasi dalam negeri. Dia mengatakan saat ini inflasi Indonesia masih berada sedikit di atas kisaran target 2,5% plus minus 1%.
Inflasi terjadi karena harga pangan bergejolak (volatile food) terutama komoditas beras. Perang Iran-Israel dapat meningkatkan harga minyak.
Baca Juga
Jika ICP Tembus US$ 100 per Barel, Kompensasi BBM Bisa Melonjak Jadi Segini
“Kita jangan lupa. 2022 kita pernah mengalami inflasi di atas 5% yang barangkali di atas rata-rata karena pada waktu itu perang Rusia-Ukraina,” kata dia.
Bambang mengatakan, saat perang Rusia-Ukraina meletus, harga minyak dunia menembus di atas US$ 100. Saat itu terjadi, pemerintah menaikkan harga BBM karena anggaran subsidi yang ditetapkan membengkak.
“Jadi perkiraan saya mengenai inflasi, akan ada tekanan. Inflasi akan lebih tinggi,” kata dia.
Bambang memprediksi, inflasi kemungkinan juga berasal dari harga yang diatur pemerintah atau administered price. Inflasi ini didominasi oleh pengaruh kejutan dari harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dan sejenisnya.
“Apakah itu BBM, apakah itu elpiji, atau yang lain. Ditambah, imported inflation sebagai akibat dari pelemahan rupiah dan juga akibat gangguan distribusi,” ucap dia.

