Penerbitan Sukuk Tembus Rp 2.584 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Staf Ahli Menteri Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Arief Wibisono menyebut keuangan syariah menjadi salah satu penyokong perekonomian nasional. Selama 15 tahun, lanjut Arief, instrumen keuangan syariah sukuk negara menjadi sumber pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sejak 2008 hingga 20 Februari 2024, total realisasi penerbitan sukuk negara telah mencapai Rp 2.584,4 triliun. Sedangkan outstanding sebesar Rp 1.492,95 triliun.
“Sukuk negara berhasil dikembangkan sebagai instrumen investasi yang produktif, yakni digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur di berbagai sektor. Sukuk (negara) juga menjadi instrumen bagi pasar keuangan syariah,” ujar Arief saat memberi paparan di Seminar Nasional Sharia Economic & Financial Outlook (ShEFO) 2024, yang digelar daring, Senin (26/02/2024).
Baca Juga
Gagal Bayar Sukuk Rp 184 Miliar, Rating Wijaya Karya (WIKA) Dipangkas
Arief mengatakan, dengan penerbitan sukuk negara, pemerintah dapat menyediakan produk keuangan berbasis syariah yang aman dan kredibel. Syarat ini dibutuhkan industri keuangan maupun investor individu.
Cash Wakaf Link Sukuk
Selain berbasis komersial, kata Arief, pemerintah juga menerbitkan sukuk negara berbasis Cash Wakaf Link Sukuk (CWLS). Melalui penerbitan CWLS ini, wakaf uang yang bersifat sementara dan permanen akan dioptimalisasikan untuk membiayai proyek kegiatan sosial.
“CWLS mendapat pengakuan dan penghargaan internasional dari Islamic Develompent Bank,” kata dia.
Untuk memperluas segmentasi, Arief mengatakan, pemerintah akan terus mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Tidak hanya dengan penerbitan sukuk, pemerintah juga akan terus menggenjot sektor industri halal.
“Sektor industri halal menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi syariah. Sektor ini memiliki potensi besar sebagai alternatif penggerak perekonomian dunia,” ujar dia.
Baca Juga
Naik Peringkat, BI Proyeksikan Ekonomi Syariah Tumbuh hingga 5,5%
Hal itu dibuktikan dengan data The State of Global Economic Report yang menyebut konsumen ekonomi syariah global tumbuh pesat. Bila pada 2012, konsumsi halal lifestyle baru US$ 1,62 triliun, berikutnya meningkat menjadi US$ 2,21 triliun pada 2022.
“Potensi Indonesia sebagai market terbesar produk halal harus dapat dimanfaatkan. Ini di-leverage dengan tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen,” tandas dia.

