Ekonom Universitas Paramadina Soroti Keberlanjutan Fiskal Usai Prabowo-Gibran Menangi Pilpres
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menyoroti tugas penting yang harus dilakukan pemenang pemilihan presiden (pilpres) 2024, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
“Yang perlu mendapat perhatian utama adalah keberlanjutan fiskal. Jangan sampai kita terbebani utang terlalu besar untuk proyek-proyek yang kurang mendatangkan manfaat ekonomi,” kata Wijayanto melalui pesan singkat kepada investortrust.id, Kamis (21/3/2024).
Wijayanto mengatakan utang pemerintah sudah terlalu berat. Dia mengibaratkan beban utang pemerintah “air yang sudah hampir sampai ke hidung.”
Baca Juga
BI: Pembiayaan Rumah Tangga Naik, Kebutuhan Utang Februari 2024 Alami Peningkatan
Berdasarkan dokumen APBN KiTa edisi Februari 2024, posisi utang pemerintah hingga 31 Januari 2024 telah mencapai Rp 8.253,09 triliun. Utang tersebut terdiri atas Rp 7.278,03 triliun berupa Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 975,06 triliun berupa pinjaman.
Baru-baru ini, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut pemerintah kembali menarik utang meski posisi keuangan dalam kondisi surplus. Per 15 Maret 2024, penarikan utang sudah dilakukan sebesar Rp 72,5 triliun. Realisasi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penarikan utang periode sama 2023 yang sebesar Rp 177,5 triliun.
Wijayanto mengatakan, saat ini Indonesia masih diuntungkan dengan harga komoditas global yang tinggi. Meski demikian, harga komoditas saat ini menunjukkan tren penurunan.
Baca Juga
“Jika kondisi ekonomi dunia memburuk, soliditas fiskal kita sangat diperlukan untuk memastikan investor masih mau membeli surat utang kita,” ujar dia.
Tanpa adanya kepercayaan investor, nasib nilai tukar rupiah menjadi kekhawatiran. “Jadi, hindari program-program populis yang boros anggaran dan pilih menteri keuangan yang kredibel dan dipercaya dunia,” kata dia.

