Kejar Alokasi Insentif KLM, BI Masih Punya Amunisi Rp 120 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) masih mengejar optimalisasi alokasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) kepada perbankan. Menurut Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman, BI masih memiliki amunisi hingga Rp 120 triliun untuk memenuhi target insentif KLM.
Sebagai bentuk apresiasi BI terhadap perbankan yang rajin menyalurkan kredit, bank sentral tersebut menyediakan 4% insentif KLM dari dana pihak ketiga (DPK). Menurut Aida, saat ini insentif KLM yang disalurkan baru sekitar 2,3%.
"Jadi yang kita keluarkan itu 165 triliun sekarang, masih ada 120 triliun lagi untuk mencapai 4%," kata Aida menjelaskan, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/3/2024).
Baca Juga
Aida menegaskan BI akan kembali melakukan penguatan kepada sektor-sektor prioritas yang mencapai kontribusi tinggi terhadap pembiayaan nasional. Selain itu guna mengejar target 4%, BI juga akan memperluas cakupan dari sektor-sektor yang mana perbankan dapat turut memanfaatkan insentif likuiditas tersebut.
"Sektornya yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang belum masuk pada sektor ini seperti ekonomi kreatif, perdagangan besar, dan juga sektor lain seperti ekonomi hijau dan lain-lain,"
Diketahui penerapan KLM sendiri oleh BI diberlakukan sejak 1 Oktober 2023 lalu. Insentif KLM diterapkan oleh BI untuk mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan yang lebih tinggi, khususnya pada sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga
Sementara itu berdasarkan asesmen RDG BI, posisi Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Maret 2024 sebesar 27,41%. Di mana menurut Dewan Gubernur BI, insentif KLM menjadi salah satu sentimen pendukung.

