Prospek FFR Masih Tinggi, Ini Posisi Rupiah di Pasar Spot dan Jisdor
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat (23/2/2024), kembali bertekuk lutut terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda melemah ke level Rp 15.597 per dolar AS, atau tergelincir 8 poin dibanding hari sebelumnya.
Adapun berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Jumat (23/2/2024), nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.589 per dolar AS, menguat dari posisi Rp 15.630 pada Kamis (22/2/2024).
Prospek Fed funds rate (FFR) atau suku bunga acuan AS yang masih tinggi dituding sebagai penyebab menguatnya indeks dolar terhadap mata uang lain, termasuk rupiah, di pasar spot. Ini menjadi sinyal yang kurang membahagiakan bagi pasar Asia.
Baca Juga
"Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama menjadi pertanda buruk bagi pasar Asia, karena kesenjangan antara imbal hasil yang berisiko dan yang berisiko rendah semakin sempit. Ini membuat sebagian besar mata uang regional diperdagangkan lebih rendah pada minggu ini," kata Direktur Utama PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Jumat (23/02/2024).
Ibrahim turut menyoroti komentar Gubernur The Fed, Jerome Powell yang cenderung hawkish (menerapkan kebijakan suku bunga tinggi) dan data tenaga kerja AS yang kuat. Kondisi itu turut melemahkan spekulasi awal tentang penurunan FFR yang kini berada di posisi 5,00-5,25%.
"Komentar terbaru pimpinan The Fed bahwa bank tersebut tidak terburu-buru mulai memangkas kebijakan moneter. Risalah pertemuan The Fed pada akhir bulan Januari juga menegaskan kembali pesan ini pada awal minggu ini," papar Ibrahim.
Sementara itu, anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller menyatakan, klaim pengangguran yang secara tak terduga turun selama seminggu terakhir menandakan berlanjutnya kekuatan di pasar tenaga kerja.
Baca Juga
“Itu memberikan sedikit dorongan bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga lebih awal,” tutur dia.
Di tengah perkasanya dolar AS di pasar spot, Ibrahim menyoroti sentimen internal yang secara tidak langsung memberikan kontribusi positif terhadap posisi mata uang rupiah, di antaranya neraca pembayaran.
Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) membukukan surplus US$ 8,6 miliar pada kuartal IV-2023, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat defisit US$ 1,5 miliar, sehingga menopang ketahanan eksternal Indonesia.

