Indeks Dolar Melemah, Rupiah Ditutup Rebound Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah berhasil rebound dalam penutupan perdagangan valas Kamis (4/4/2024). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda menguat 16 poin ke level Rp 15.907 per USD, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp 15.923 per USD.
Kemudian dalam pantauan perdagangan spot antarbank seperti dilansir Yahoo Finance Kamis (4/4/2024), rupiah menguat 24 poin ke level Rp 15,890 per USD. Sebelumnya, rupiah di posisi Rp 15,914 per USD pada penutupan perdagangan kemarin.
Meski rupiah berhasil rebound menutup perdagangan hari ini, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengingatkan pemerintah, pelaku pasar, hingga masyarakat untuk tetap mengantisipasi tren depresiasi rupiah yang tengah terjadi.
Menurut Eko, depresiasi rupiah berkaitan erat dengan berbagai sentimen. Ini seperti arah kebijakan The Fed hingga meningkatnya permintaan dolar di pasar domestik, yang seiring dengan momentum Lebaran. Ia juga menyebut ada sentimen politik rangkaian pemilihan presiden (pilpres) RI, yang saat ini masih berlangsung gugatan sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK).
"Melihat trennya, rupiah bisa ke Rp 16.000 per dolar secara temporer. Ini mengingat faktor sentimen yang melemahkan masih cukup besar," kata Eko kepada Investortrust.id, Kamis (3/4/2024).
Inflasi Diprediksi 3,25% April
Eko juga memprediksi tingkat inflasi akan mencapai angka 3,25% year on year di bulan April 2024. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) Maret 2024 sebesar 3,05% yoy.
Sementara itu, pengamat rupiah Ibrahim Assuaibi menyoroti sinyal beragam yang diberikan Gubernur The Fed Jerome Powell mengenai penurunan suku bunga AS. Disebut Ibrahim, meski Powell mengatakan The Fed pada akhirnya akan memangkas suku bunga pada akhir tahun ini, ia hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai waktu dan skala potensi pemotongan tersebut.
Powell juga mengatakan bank sentral negara dengan perekonomian terbesar itu akan membutuhkan lebih banyak keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target tahunan sebesar 2%. Komentar Powell muncul tepat sebelum rilis data utama nonfarm payrolls AS untuk bulan Maret 2024, yang akan diumumkan pada Jumat besok.
"Peristiwa utama minggu ini adalah data nonfarm payrolls untuk bulan Maret, yang akan dirilis pada hari Jumat. Inflasi yang stagnan dan kuatnya pasar tenaga kerja adalah dua pertimbangan terbesar The Fed terkait potensi menurunkan suku bunga acuan," kata Ibrahim, dalam keterangan tertulis pada Kamis (4/4/2024).

