Rupiah Tergelincir Usai BI Rate Bertahan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap greenback tergelincir dalam pembukaan perdagangan, Kamis (22/02/2024). Rupiah melemah 20 poin ke level Rp 15.655 per USD, setelah sebelumnya ditutup menguat sebesar Rp 15.635 per USD kemarin.
Penguatan rupiah pada penutupan perdagangan kemarin bersamaan dengan hari pengumuman kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan bank sentral RI di level 6,0%. Kemudian, dalam pembukaan perdagangan pagi ini, mata uang Garuda kembali melemah.
Analis PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Reny Eka Putri menyebut, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sesuai dengan ekspektasi pasar, melihat perkembangan inflasi domestik yang masih terkendali. "Kebijakan BI yang pro-market dengan menerbitkan berbagai instrumen baru diharapkan dapat menarik aliran dana asing dan meningkatkan cadangan devisa, sehingga dapat mengurangi tekanan eksternal terhadap pelemahan rupiah lebih lanjut," ucap Reny kepada Investortrust, Kamis (22/02/2024).
Baca Juga
Selain mempertahankan BI rate di level 6%, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan suku bunga deposit facility pada posisi 5,25%. Suku bunga lending facility juga tetap berada di 6,75%.
Tunggu FOMC Minutes
Analis BMRI Reny Eka Putri juga menjelaskan sentimen eksternal terhadap pergerakan rupiah hari ini, yaitu kepastian penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat. Selain itu menurut Reny, pelaku pasar masih menunggu hasil FOMC minutes untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
"Kami memperkirakan Fed Funds Rate baru akan diturunkan pada semester kedua tahun 2024. Ini sejalan dengan inflasi AS yang masih di atas target 2%," ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan indeks dolar juga masih meningkat di kisaran 103 -104. Ini menunjukkan dolar AS tidak hanya masih menguat terhadap rupiah, tetapi juga terhadap major currencies.
Baca Juga
Sementara itu, BI turut menyoroti pertumbuhan ekonomi dunia yang diprakirakan lebih baik dari proyeksi sebelumnya, meski di tengah ketidakpastian pasar keuangan masih tinggi. Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi ekonomi global diprakirakan tumbuh sebesar 3,0% pada tahun 2024 setelah sebelumnya tumbuh 3,1% di 2023. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya masing-masing sebesar 3,0% dan 2,8%.

