ORI019 Jatuh Tempo, Investor Diajak Reinvestasi ORI025 dengan Kupon Naik Tembus 6,40%
JAKARTA, investortrust.id - Direktorat Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) mengajak para investor yang membeli Obligasi Negara Ritel (ORI) 019 kembali berinvestasi, ke ORI025. ORI19 ini telah jatuh tempo pada Kamis (15/02/2024).
Kupon ORI025 dengan target penjualan Rp 15-20 triliun itu kuponnya di atas 6%. Kupon untuk ORI025 tenor 3 tahun sebesar 6,25%. Bahkan, untuk ORI025 tenor 6 tahun mencapai 6,40%.
“Kami harapannya investor dari ORI019 itu bisa reinvestasi di ORI025. Dengan reinvestasi pemegang ORI019 ke ORI025, target investasi ORI025 bisa mencapai Rp 15-20 triliun, hingga akhir penutupan pada 22 Februari 2024,” kata Direktur Surat Utang Negara (SUN) Deni Ridwan saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (15/02/2024).
Baca Juga
Harapan Deni tersebut dengan melihat tren pembelian ORI dua tahun terakhir.
Horizon Investasi Menengah
Direktur SUN Deni Ridwan mengatakan, banyak investor punya horizon investasi menengah dan jangka panjang. Sementara tenor ORI sebelumnya hanya selama 2-3 tahun. Akhirnya, setelah jatuh tempo, investor bisa beli lagi, seperti roll over deposito.
Baca Juga
ORI25 Serap Dana Investor Rp 10,87 Triliun, Ditawarkan Sejak 29 Januari 2024
Berdasarkan hal itu, Deni mengatakan, pemerintah sejak 2023 menerbitkan SBN ritel dengan jangka waktu 4-6 tahun. Langkah ini juga bertujuan untuk memberi kesempatan investor berinvestasi ke SBN ritel ke lebih panjang. “Kami harapannya, sebanyak 16-20 ribu investor baru bisa di-catch dari penerbitan SBN ritel ini,” ujar dia.
Hingga Jumat (16/07/2024), menurut data yang diterima Investortrust, sejak penerbitannya pada 25 Januari 2021 hingga jatuh tempo 15 Januari 2024 terdapat 48.731 investor yang membeli ORI019. Realisasi penjualan ORI019 mencapai Rp 26 triliun.
ORI019 memiliki jangka waktu 3 tahun dengan besaran kupon 5,57%. Sementara itu, untuk ORI025 pemerintah menargetkan realisasi penjualan sebesar Rp 15-20 triliun.

