Melonjak, Asing Net Buy Saham Rp 762 Miliar Selasa, di SBN Rp 3 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing makin deras mengalir masuk ke pasar saham domestik pada Selasa (19/3/2024), dengan mencatatkan net buy Rp 762 miliar. Hal ini melanjutkan pembelian bersih yang terjadi pada Senin (18/3/2024) di Bursa Efek Indonesia, senilai Rp 97 miliar.
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis oleh Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi kemarin (18/3/2024). Nonresiden di pasar SBN juga melakukan pembelian neto menembus Rp 3 triliun.
Baca Juga
Net buy Rp 761,88 Miliar, Berikut Daftar Lima Saham Diborong Asing
Sepanjang Maret ini, asing masih mencatatkan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) month to date senilai Rp 8,53 triliun. Sedangkan di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga kemarin, asing masih membukukan penjualan bersih Rp 17,91 triliun.
BEI menyatakan pada Selasa ini, di Jakarta, akumulasi pembelian bersih saham oleh asing senilai Rp 26,97 triliun secara year to date. Sedangkan di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, asing mencatatkan penjualan bersih ytd hingga kemarin Rp 22,83 triliun.
Utang Meski APBN Surplus
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, APBN surplus sebesar Rp 22,8 triliun hingga 15 Maret 2024. Meski surplus, pemerintah masih menerbitkan utang.
“Kenapa dalam situasi surplus kita sudah melakukan issuance? Karena memang strategi issuance kita dalam satu tahun,” kata Sri Mulyani saat paparan di hadapan Komisi XI DPR, dipantau daring, Selasa (19/3/2024).
Baca Juga
Sri Mulyani mengatakan penerbitan utang itu dilakukan dengan strategi oportunistik dan pragmatis. Dia mengatakan, pemerintah melihat kondisi pasar dengan narasi APBN yang stabil dan kredibel.
“Ini membuat kita mampu mendapatkan SBN dengan yield yang relatif kompetitif. Dengan likuiditas yang ketat, arus dana non-resident ke SBN mengalami reverse dibanding inflow ke SBN tinggi pada 2023, pada 2024 ini terjadi outflow. Sedangkan untuk saham masih mengalami positive inflow,” kata dia.
Berdasarkan paparan Menkeu Sri, pasar keuangan domestik 2024 mengalami net inflow Rp 2,77 triliun. "Net inflow (hingga) Maret 2024 ini lebih rendah dibanding periode yang sama setahun sebelumnya yang mencapai Rp 62,96 triliun. Namun, yield kita relatif stabil. Ini menunjukkan kita cukup mampu menciptakan stabilitas dari yield SBN,” ujar dia.
Sri Mulyani mengatakan, stabilnya imbal hasil (yield) SBN juga karena pemerintah melakukan deepening. Ini seperti menerbitkan lebih banyak SBN retail. Pemerintah juga berkerja sama dengan Bank Indonesia untuk melakukan berbagai langkah stabilisasi SBN RI.
Dibanding US Treasury 10 tahun, lanjut Sri Mulyani, yield SBN Indonesia relatif terjaga baik. "Untuk Brasil contohnya, SBN local-currency membayarnya sudah di atas 10% dari nilai US$. Kalau Nigeria atau Turki bahkan sudah di atas 18% dari nilai US$. Jadi, dengan yield kita di bawah 7%, ini jauh lebih baik dari emerging yang mengalami tekanan,” ujar dia.
Rupiah Lebih Baik dari Ringgit
Sri Mulyani juga mengatakan pasar, keuangan domestik mengalami beberapa kali koreksi karena tekanan global. Dia mengatakan, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi 2,59% sepanjang 2023 dan melanjutkan depresiasi 1,08% year to date (ytd).
“Ini masih jauh lebih kecil dibanding depresiasi negara-negara lain yang koreksinya di atas 2%. Ini seperti Malaysia, Brasil, Korea Selatan, bahkan Thailand, Argentina, Jepang, dan Turki kasus khusus,” kata dia.
