Ramai Bicara Rupiah 22.000/USD, Bisakah Rupiah Benar-benar ke Sana?
"Yang lebih penting adalah memahami mengapa rupiah dihargai seperti sekarang, dan apa yang benar-benar harus berubah supaya investor punya alasan untuk kembali percaya".
Oleh: Harry Baskoro - Mantan Deputi Direktur Senior Bank Indonesia, Direktur SUR+ Advisory Indonesia.
INVESTORTRUST - Awal bulan ini, saya menulis kajian untuk SUR+ Advisory Indonesia dengan satu pertanyaan yang agak mengusik: bagaimana kalau dolar AS mencapai Rp20.000? Waktu itu, angkanya sudah cukup bikin orang mengernyit. Rupanya sekarang selera kita terhadap angka besar semakin meningkat.
Kemarin, Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kadin, mengingatkan bahwa dolar bisa mencapai Rp20.000–21.000, bahkan Rp22.000 per USD, jika persoalan MSCI membuat investor asing ramai-ramai menjual saham Indonesia. Dampaknya bisa berat, terutama bagi perusahaan yang punya utang dolar tetapi penghasilannya dalam rupiah.
Pada hari yang sama, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memberikan pandangan yang lebih menenangkan. Menurutnya, persoalan MSCI merupakan guncangan jangka pendek yang bisa mereda jika masalahnya dibereskan. Fundamental ekonomi Indonesia juga dinilai masih relatif baik dibandingkan negara-negara sekelasnya.
Lantas, siapa yang benar? Bisa jadi keduanya. Justru di situlah menariknya.
Rupiah punya nilai wajar berdasarkan kondisi ekonomi. Tetapi harga yang terbentuk di pasar belum tentu sama.
Dalam kajian SUR+, kami memperkirakan kisaran nilai wajar rupiah berada di sekitar Rp18.000–18.300 per dolar. Hitungan ini mempertimbangkan kondisi transaksi Indonesia dengan dunia luar, termasuk pelemahan rupiah yang sudah terjadi sebelumnya.
Dengan kurs penutupan 29 Oktober sekitar Rp18.137, rupiah sebenarnya tidak terlalu jauh dari kisaran tersebut.
BI sendiri pernah mengatakan rupiah masih terlalu murah dibandingkan nilai wajarnya. Bisa saja. Tetapi nilai wajar menurut hitungan siapa? Dengan asumsi apa? Dan memakai data kapan?
Dua ekonom bisa menghitung kurs rupiah dengan serius, tetapi hasilnya berbeda. Lagi pula, sesuatu yang kelihatan murah belum tentu langsung dibeli orang. Apalagi kalau mereka masih khawatir ada masalah yang belum beres.
Di sinilah kondisi ekonomi kita perlu diperhatikan.
Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar dari sekitar 1 persen PDB pada triwulan pertama 2026 menjadi 3,3 persen pada triwulan kedua. Sederhananya, uang yang kita keluarkan untuk transaksi dengan dunia luar semakin besar dibandingkan yang kita terima.
BI menilai sebagian besar pelebaran itu hanya sementara. Kalau benar, tekanan terhadap rupiah mestinya ikut berkurang.
Tetapi kalau defisit sebesar itu terus berulang, hitungannya berubah. Dalam simulasi SUR+, nilai wajar rupiah bisa bergeser menuju Rp19.000, bahkan mendekati Rp20.000 jika defisit sebesar triwulan kedua terus bertahan.
Itu jalur pertama. Rupiah melemah karena kondisi ekonomi memang membutuhkan penyesuaian. Ada jalur kedua yang bisa bergerak jauh lebih cepat.
Pasar tidak selalu menunggu keadaan memburuk. Kadang cukup dengan kekhawatiran bahwa keadaan akan memburuk.
MSCI sedang mempertimbangkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Persoalannya menyangkut transparansi, kepemilikan saham yang terkonsentrasi, dan praktik perdagangan.
Hashim juga menyinggung saham-saham gorengan. Saham yang beredar di publik sedikit, tetapi harganya bisa terbang begitu tinggi sampai hubungan antara harga saham dan keuntungan perusahaannya sulit diterima akal sehat.
Kalau investor asing kehilangan kepercayaan, mereka bisa menjual saham lalu menukarkan rupiah hasil penjualan menjadi dolar. Permintaan dolar meningkat, rupiah tertekan, padahal kondisi transaksi Indonesia dengan luar negeri belum tentu berubah.
Jika rupiah melemah melampaui apa yang bisa dijelaskan oleh kondisi ekonomi, para ekonom menyebutnya overshooting.
Bayangkan pelanggan warteg mendadak bergegas membayar dan pulang karena ada yang bilang dapurnya mungkin terbakar. Padahal belum ada yang memeriksa kompornya.
Kekhawatiran Hashim tentang keluarnya modal asing tentu beralasan. Dana investasi bisa berpindah dalam waktu singkat. Pelemahan rupiah yang tajam juga bisa memberatkan perusahaan yang harus membayar utang dolar.
Namun, ada perbedaan penting antara mengatakan sesuatu mungkin terjadi dan memperkirakan bahwa hal tersebut akan terjadi.
Apalagi kalau angka Rp22.000 disampaikan oleh tokoh yang dekat dengan pengambil kebijakan.
Sebagian pelaku usaha mungkin mulai membeli dolar lebih awal. Investor mengubah portofolionya. Masyarakat pun bertanya-tanya apakah sebaiknya menyimpan dolar daripada rupiah.
Masing-masing merasa sedang berjaga-jaga. Tetapi kalau dilakukan bersama-sama, tindakan itu justru menambah permintaan dolar dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Kekhawatiran bisa ikut menciptakan keadaan yang dikhawatirkan.
Bukan berarti risiko harus disembunyikan. Menutupi masalah juga bukan cara membangun kepercayaan. Yang penting adalah menjelaskan mana yang sekadar mungkin terjadi, mana yang cukup berpeluang terjadi, dan apa yang bisa dilakukan agar kita tidak sampai ke sana.
Pandangan Gubernur BI juga perlu dibaca dengan ukuran yang sama.
Menyebut persoalan MSCI sebagai guncangan sementara bisa saja benar. Tetapi masalahnya harus benar-benar dibereskan.
Sesuatu tidak otomatis menjadi sementara hanya karena pejabat mengatakan demikian.
Kalau investor melihat persoalannya sedang ditangani, kepercayaan punya kesempatan pulih. Kalau mereka merasa masalahnya terus dibiarkan, gangguan yang semula sementara bisa berubah menjadi persoalan berkepanjangan.
BI tentu punya berbagai cara untuk meredam gejolak rupiah, mulai dari intervensi pasar valas, pengelolaan likuiditas, hingga suku bunga. Cadangan devisa akhir September sebesar US$146,3 miliar juga bukan jumlah yang kecil.
Tetapi cadangan devisa tidak bisa dipakai terus-menerus tanpa biaya. Kalau tekanan tak kunjung reda, pilihan yang dihadapi BI semakin sulit.
Dan kalau persoalannya adalah tata kelola pasar saham, menjual dolar saja jelas tidak cukup. Pengawasan, keterbukaan, dan penegakan aturan harus diperbaiki. Gubernur BI mengakui bahwa pembenahan transparansi membutuhkan waktu.
Begitu pula kalau defisit transaksi berjalan terus membesar. Intervensi bisa membantu menahan gejolak, tetapi tidak bisa menghapus penyebabnya.
Dalam kajian SUR+, Rp20.000 bukan perkiraan utama kami. Angka itu menjadi masuk akal jika kondisi ekonomi memburuk cukup lama atau tekanan pasar semakin berat. Kami bahkan tidak menghitung Rp22.000 sebagai nilai keseimbangan.
MSCI pun belum mengambil keputusan akhir, yang diperkirakan paling lambat Juni 2027. Kalaupun klasifikasi Indonesia berubah, tidak ada rumus otomatis yang langsung membawa dolar ke Rp20.000 atau Rp22.000.
Pak Hashim mengingatkan apa yang bisa terjadi jika kepercayaan hilang. Bu Destry menjelaskan mengapa kepercayaan itu masih bisa dijaga.
Keduanya perlu didengar. Tetapi berdebat apakah rupiah seharusnya Rp18.000, Rp20.000, atau Rp22.000 tidak akan banyak menyelesaikan masalah.
Yang lebih penting adalah memahami mengapa rupiah dihargai seperti sekarang, dan apa yang benar-benar harus berubah supaya investor punya alasan untuk kembali percaya.
Percuma pemilik warteg sibuk meyakinkan pelanggan bahwa dapurnya aman, sementara tak seorang pun mau repot memeriksa kompor.
Kepercayaan tidak bisa dipulihkan hanya dengan meminta orang untuk percaya. Harus ada alasan yang membuat mereka mau percaya. ***
