Rupiah Melemah pada Perdagangan Mula Selasa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar AS pada Selasa (13/10/2026). Rupiah melemah sebesar 0,17% di angka Rp 17.943 per dolar AS.
Selain rupiah, pelemahan juga terjadi pada won Korea Selatan dan ringgit Malaysia. Won melemah 0,3% dan ringgit melemah 0,02%. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,1% dan yuan China melemah 0,03%.
Beberapa mata uang di kawasan Asia terpantau menguat. Rupee India menguat 0,98%, yen Jepang menguat 0,17%, dan baht Thailan menguat 0,03%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury) ditutup untuk memperingati hari libur Columbus Day, dengan imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun terakhir tercatat sebesar 5,24% dan tenor 2 tahun sebesar 4,80%.
Yield obligasi tenor panjang masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Tingginya harga energi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, serta ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) terus menekan pasar obligasi global.
Baca Juga
Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,37% ke level 102,59, sehingga mencatat penguatan 4,34% sepanjang tahun berjalan, sekaligus mencapai level tertinggi dalam sekitar 18 bulan.
Permintaan terhadap aset safe haven dan ekspektasi suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama menopang penguatan dolar AS.
Pasar akan mencermati data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS September 2026 yang dirilis pada Rabu, dengan inflasi utama diperkirakan mencapai sekitar 0,6% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan, sedangkan inflasi inti diperkirakan berada di sekitar 2,5% secara tahunan.
Harga minyak mentah Brent naik 1,84% ke US$ 106,7 per barel, sebelum turun ke sekitar US$ 106,0 per barel pada pagi ini.
Harga minyak masih tinggi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap bandara internasional Riyadh dan insiden yang melibatkan kapal tanker di dekat Selat Hormuz. Namun, prospek peningkatan ekspor solar Rusia memberikan sedikit penyeimbang terhadap kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek.
