Ilham Habibie: Tanpa Industri yang Kuat, Tak Ada Indonesia Emas 2045
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara (FDN), Ilham Akbar Habibie mengingatkan, Indonesia tak akan menjadi negara maju pada 2045 (Indonesia Emas 2045) jika tidak didukung industri yang kuat.
Ilham Habibie sangat percaya pada ideologi bahwa suatu bangsa atau negara hanya bisa maju jika menguasai industri berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Hal itu diungkapkan Ilham Habibie dalam diskusi Forum Dialog Nusantara (FDN) ke-16 bertajuk “Pentingnya Industrialisasi dalam Mempercepat Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045” di Perpustakaan Habibie & Ainun Jakarta, Senin (13/11/2023).
Baca Juga
Ilham Habibie: Keberlanjutan Adalah Kunci Mewujudkan Indonesia Maju 2045
Ilham Habibie menjelaskan, sesuai rencana resmi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), untuk mencapai Indonesia Emas 2045 dengan pendapatan per kapita US$ 32.000 dari saat ini sekitar US$ 4.500, Indonesia harus memiliki manusia unggul yang bisa mengembangkan industri.
“Kalau kita lihat, negara-negara lain di Asia Timur dan Asia Tengah yang masuk ke dalam kelompok negara maju, tidak ada satu pun yang masuk ke situ tanpa memiliki industri yang kuat,” ujar Ilham.
Ilham mencontohkan, Jepang, Korea, Taiwan, bahkan China telah mampu mengembangkan dan memperkuat industri mereka masing-masing. Dari industri yang kuat itu pula, merekamampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Baca Juga
Ilham Habibie Soroti Minimnya Stok Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan
Muncul Deindustrialisasi
Ilham mengakui, mencetak manusia unggul yang menguasai iptek membutuhkan waktu. “Kita harus belajar dari pendahulu kita, guru, kolega, industri di mana kita bekerja, dan sebagainya. Itu satu proses perjalanan manusia bertahun-tahun. Butuh proses, juga butuh sistem yang melibatkan banyak sekali orang. Proses belajar inilah yang membuat manusia menjadi terbarukan,” papar dia.
Di sisi lain, menurut Ilham Habibie, dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia justru muncul gejala deindustrialisasi. Sektor industri dalam satu dekade terakhir rata-rata tumbuh di bawah 5% atau di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
“Deindustrialisasi adalah di mana industri masih tumbuh, tapi di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Jadi, kalau ekonomi kita tumbuh katakanlah 5%, industri tumbuh tapi hanya 4%,” tutur Ilham.
Baca Juga
Deindustrialisasi, kata Ilham, terjadi karena yang berkembang di Indonesia adalah sektor primer dan tersier. “Primer terkait dengan sumber daya alam, sekunder terkait dengan industri, dan tersier terkait dengan jasa. Yang berkembang di Indonesia adalah sektor primer dan tersier,” tandas dia.
Menurut Ilham Habibie, sektor sekunder di Indonesia sangat kurang. Karena itu, sektor sekunder patut didorong. Jika sektor sekunder berkembang, masyarakat Indonesia akan lebih sejahtera. Indonesia akan menjadi negara maju, berdaulat, dan berkesinambungan.

