Dari Purbaya ke Suahasil: Pasar Menunggu Arah Baru Fiskal Indonesia
Oleh: Moh Fendi Susiyanto CWM®, CTA, CSA - Analis dan Pengamat Pasar Modal dan Perbankan
INVESTORTRUST - Secara mengejutkan, Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan menunjuk Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan. Pergantian ini terjadi tepat pada momentum yang sangat sensitif. Indonesia sedang berusaha mempercepat pertumbuhan ekonomi, sementara pasar global menghadapi kenaikan harga minyak global, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, ekspektasi pengetatan The Fed, dan tingginya volatilitas arus modal ke pasar negara berkembang.
Karena itu, pasar tidak akan membaca pergantian ini hanya sebagai reshuffle kabinet biasa. Pasar akan bertanya lebih jauh, apakah kebijakan fiskal Indonesia akan berubah? Apakah target pertumbuhan 6% pada 2027 tetap dikejar dengan ekspansi fiskal yang agresif? Apakah defisit tetap dijaga di bawah 3% PDB? Bagaimana hubungan APBN dengan BPI Danantara, Bank Indonesia, perbankan dan pembiayaan proyek prioritas? Dan yang paling penting, apakah investor dapat memprediksi dengan lebih jelas arah kebijakan ekonomi Indonesia setelah pergantian ini?.
Pertanyaan terakhir sangat penting. Dalam pasar keuangan, uncertainty dapat diterima, tetapi unpredictability jauh lebih mahal. Investor dapat menghitung risiko harga minyak, suku bunga atau nilai tukar. Yang lebih sulit dihitung adalah perubahan arah kebijakan yang tidak terkomunikasikan dengan baik.
Warisan Purbaya (08 Sep 2025-1 Sep 2026): Growth-Oriented Fiscal Policy
Purbaya meninggalkan karakter kebijakan yang cukup jelas, yaitu fiskal harus bekerja lebih cepat untuk mendorong pertumbuhan. Pemerintah mempercepat belanja negara, menggunakan berbagai instrumen untuk memperbaiki likuiditas ekonomi, dan menekankan bahwa APBN tidak boleh terlalu pasif ketika aktivitas ekonomi membutuhkan dorongan.
Hasil makro selama periode tersebut cukup menarik. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61% pada kuartal I 2026 sebelum moderasi menjadi 5,29% pada kuartal II. Pertumbuhan Kredit perbankan pada Juli tumbuh 13,58% secara tahunan. Di sisi fiskal, sampai akhir Juni pendapatan negara mencapai sekitar Rp1.459,4 triliun, belanja Rp1.656,0 triliun, dan defisit sekitar Rp196,5 triliun atau 0,76% PDB. Sampai Juli, pemerintah juga menyampaikan defisit masih sekitar 0,9% dari PDB.
Namun faktanya pasar tidak hanya melihat angka pertumbuhan saja. Sepanjang 2026 investor juga menyoroti fiscal trajectory, besarnya program prioritas pemerintah, tekanan harga energi, kualitas belanja, perubahan institusi ekonomi, dan kredibilitas policy anchor. Lembaga rating dunia seperti Moody’s dan Fitch sebelumnya memberi sinyal kekhawatiran melalui perubahan outlook, sementara S&P pada bulan Juli lalu mempertahankan peringkat Indonesia dengan outlook stabil dan menegaskan pentingnya batas defisit 3% sebagai anchor.
Dengan demikian, pekerjaan Menteri Keuangan baru bukan memulai dari nol. Ia mewarisi sebuah mesin fiskal yang sedang diarahkan untuk tumbuh lebih cepat, tetapi pada saat yang sama harus meyakinkan pasar bahwa akselerasi tersebut tidak mengorbankan kredibilitas fiskal.
Siapa Suahasil dan Mengapa Pasar Bisa Memberinya Benefit of the Doubt?
Suahasil Nazara bukan figur baru di Kementerian Keuangan. Ia telah menjadi Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya memimpin Badan Kebijakan Fiskal. Latar belakang akademiknya beliau sangat kuat, yaitu ekonom, profesor Universitas Indonesia, dengan pendidikan lanjutan di Cornell University dan University of Illinois. Artinya, dari sisi institutional memory, pergantian ini memiliki unsur kontinuitas yang besar.
Lebih penting lagi, rekam pernyataan kebijakannya menunjukkan kecenderungan yang relatif jelas.
Pada Mei 2026 Suahasil menekankan komitmen menjaga defisit secara prudent di bawah 3% PDB. Pada Agustus ia menjelaskan strategi mencapai pertumbuhan 6% melalui APBN yang lebih efektif. Pada awal September, di hadapan investor, ia menekankan resiliensi APBN, koordinasi dengan BI, OJK, LPS dan BPI Danantara. Ia juga menekankan investasi berkualitas dan pembiayaan jangka panjang sebagai mesin produktivitas.
Kombinasi tersebut dapat menjadi modal awal yang positif, tetap berorientasi pro-growth, namun tetap memahami fiscal constraint dengan baik, serta mendukung program-program pemerintah, tetapi terbiasa berbicara dengan bahasa yang mudah juga dipahami investor. Dalam beberapa minggu pertama, modal reputasi ini perlu dikonversi menjadi policy clarity.
Pertumbuhan 6%: Bisa, tetapi Bukan dengan Fiskal Sendirian
RAPBN 2027 kita menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, lebih tinggi dibandingkan target APBN 2026 sebesar 5,4%. Target tersebut ambisius tetapi bukanlah sesuatu yang mustahil. Masalahnya, pertumbuhan 6% tidak dapat dibeli hanya dengan memperbesar belanja negara.
APBN dapat menjadi katalis dan shock absorber, tetapi pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan private investment, produktivitas, ekspor, manufaktur, konsumsi rumah tangga yang sehat, kredit produktif dan kepastian kebijakan. Jika pertumbuhan terlalu bergantung pada belanja pemerintah, fiscal multiplier akan cepat mencapai batasnya dan kebutuhan pembiayaan meningkat.
Karena itu saya melihat tantangan utama Suahasil adalah menggeser narasi dari fiscal-driven growth menjadi investment-led and productivity-driven growth. Pemerintah perlu menggunakan APBN untuk membuka jalan bagi modal swasta, bukan menggantikannya. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hilirisasi, digitalisasi dan perlindungan sosial harus dinilai berdasarkan economic multiplier dan outcome, bukan hanya tingkat penyerapan anggaran.
Jika pendekatan ini berhasil, target 6% akan lebih kredibel di mata pasar. Sebaliknya, jika pasar melihat target tersebut harus dikejar melalui pelebaran defisit, tambahan utang dan intervensi yang semakin besar, risk premium Indonesia akan meningkat.
Lima Sinyal yang Akan Ditunggu Investor
Dalam 30 sampai 100 hari pertama, investor domestik maupun global menurut saya akan memperhatikan lima sinyal.
- Pertama adalah fiscal anchor. Pernyataan tegas bahwa defisit tetap di bawah 3% PDB, debt sustainability dijaga dan pembiayaan dikelola secara prudent akan menjadi sinyal paling penting bagi pasar SBN dan lembaga pemeringkat.
- Kedua adalah kualitas belanja. Investor tidak alergi terhadap belanja besar apabila belanja tersebut meningkatkan productive capacity. Yang dikhawatirkan adalah belanja permanen yang tidak menghasilkan tambahan penerimaan atau produktivitas. Karena itu spending review, outcome-based budgeting dan evaluasi program prioritas perlu diperkuat.
- Ketiga adalah hubungan APBN dengan BPI Danantara. Pasar membutuhkan batas yang jelas antara sovereign balance sheet dan commercial balance sheet. Contingent liabilities, penjaminan, dividen, leverage dan pembiayaan proyek harus transparan agar investor dapat mengukur risiko fiskal dengan baik.
- Keempat adalah tax policy. Kenaikan penerimaan yang berasal dari perbaikan administrasi, kepatuhan dan perluasan basis pajak lebih sehat dibandingkan perubahan tarif mendadak yang menekan konsumsi atau investasi. Predictability perpajakan merupakan bagian dari investment climate.
- Kelima adalah policy coordination. Setelah perubahan kepemimpinan ekonomi dalam satu tahun terakhir, investor akan memperhatikan apakah Kementerian Keuangan, BI, OJK dan lembaga ekonomi lain tetap mempunyai pembagian mandat yang jelas. Koordinasi penting, tetapi koordinasi tidak boleh dibaca sebagai hilangnya independensi institusi.
Rupiah: Kredibilitas Fiskal Menjadi Pertahanan Pertama
Dampak paling cepat dari pergantian Menteri Keuangan biasanya terlihat pada rupiah dan pasar obligasi. Pada pagi 14 September, sebelum pasar sepenuhnya mencerna pengumuman reshuffle, rupiah dibuka sekitar Rp17.655 per dolar AS dan sempat menguat tipis. Karena pengumuman terjadi di tengah perdagangan dan bersamaan dengan sentimen global yang berat, pergerakan satu hari tidak boleh langsung dianggap sebagai referendum pasar terhadap Menteri Keuangan baru.
Kondisi global justru sedang bergejolak lagi, Harga minyak mentah Brent kembali di atas US$100 per barel, yield US Treasury tinggi dan pasar memperhitungkan dan mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed. Bagi Indonesia sebagai net oil importer, minyak mahal dapat menekan current account, inflasi, subsidi dan rupiah sekaligus.
Dalam lingkungan seperti ini, kredibilitas fiskal menjadi first line of defense. Jika investor yakin defisit terkendali dan kebutuhan penerbitan SBN dapat diprediksi, rupiah memperoleh dukungan melalui confidence dan capital inflow. Jika sebaliknya, investor meminta risk premium lebih tinggi, yield SBN naik dan tekanan rupiah membesar.
Pasar SBN: Tempat Investor Global Memberikan Nilai
Pasar obligasi akan menjadi indikator paling jernih untuk membaca respons investor global. Investor SBN memperhatikan bukan hanya pertumbuhan, tetapi primary balance, debt-service ratio, penerimaan, financing need, maturity profile, currency risk dan institutional credibility.
Menjelang pergantian Menkeu ini, minat asing terhadap SBN masih terlihat membaik. Kepemilikan non-residen meningkat dari sekitar Rp892 triliun pada akhir Juli lalu menjadi sekitar Rp908 triliun pada akhir Agustus dan sekitar Rp909 triliun pada awal September. 2026. Namun aliran modal belum dapat disebut deras. Ini berarti confidence sedang pulih, tetapi belum sepenuhnya kuat.
Suahasil memiliki peluang mempercepat pemulihan tersebut. Jika ia mampu memberikan medium-term fiscal framework yang konsisten, menjaga target defisit RAPBN 2027 sekitar 2,4 persen PDB, dan menghindari surprise financing, yield SBN berpotensi mendapat support. Sebaliknya, ketidakjelasan fiscal burden dari program prioritas atau contingent liabilities akan kembali menaikkan term premium.
IHSG: Dari Shock Politik ke Earnings
Pasar saham mempunyai mekanisme berbeda. Dalam jangka sangat pendek, reshuffle dapat meningkatkan volatilitas. Namun setelah shock awal, investor saham akan kembali menghitung Laba Perusahaan (earnings).
Jika kebijakan Suahasil mampu menjaga stabilitas rupiah, menurunkan sovereign risk premium, memperbaiki confidence dan mendorong pertumbuhan investasi, sektor perbankan, konsumer, infrastruktur, properti dan industrial dapat memperoleh katalis. Bank memperoleh manfaat dari kualitas pertumbuhan kredit yang lebih baik. Konsumer memperoleh manfaat jika daya beli terjaga. Infrastruktur dan industrial mendapat dukungan apabila proyek produktif bergerak.
Tetapi apabila kebijakan terlalu ekspansif sehingga yield naik dan rupiah tertekan, equity valuation akan menghadapi discount rate yang lebih tinggi. Saham pertumbuhan (growth stocks) dan sektor yang sensitif terhadap bunga akan tertekan. Jadi pasar saham tidak hanya membutuhkan pertumbuhan GDP tinggi, tetapi pasar sangat membutuhkan pertumbuhan yang tidak dibayar dengan macro instability.
Investor Domestik dan Global Tidak Selalu Membaca dengan Cara Sama
Investor domestik cenderung mempunyai information advantage dan horizon yang berbeda. Mereka memahami detail politik, eksekusi APBN dan dinamika institusi dengan lebih dekat. Investor global melihat Indonesia relatif terhadap emerging markets lain. Mereka membandingkan Indonesia dengan India, Malaysia, Thailand, Filipina, Meksiko atau Brasil berdasarkan growth, yield, currency volatility, governance dan policy credibility.
Karena itu, Indonesia dapat mencatat pertumbuhan 5,5–6% tetapi tetap kehilangan foreign inflow jika risk-adjusted return dianggap kurang menarik. Sebaliknya, sedikit perbaikan kredibilitas dapat menghasilkan inflow besar ketika positioning investor asing masih rendah.
Inilah alasan komunikasi kebijakan sangat penting. Menteri Keuangan pada era global capital bukan hanya chief financial officer pemerintah. Ia juga chief credibility officer ekonomi nasional.
Jangan Memilih antara Pertumbuhan dan Disiplin Fiskal
Kesalahan terbesar dalam membaca pergantian ini adalah menganggap Indonesia harus memilih antara Menteri Keuangan yang lebih pro-growth atau lebih pro-fiscal discipline. Hemat saya, pilihan tersebut adalah false dichotomy. Indonesia membutuhkan keduanya.
Disiplin fiskal tanpa pertumbuhan akan membuat denominator PDB dan basis pajak tumbuh lambat. Pertumbuhan tanpa disiplin fiskal akan menaikkan borrowing cost dan menggerus confidence. Formula yang dibutuhkan adalah productive fiscal expansion, dimana setiap tambahan rupiah belanja harus mempunyai multiplier effect, setiap insentif harus memiliki additionality, dan setiap pembiayaan harus dinilai terhadap future cash flow atau future tax capacity.
Suahasil justru memiliki peluang membangun jembatan tersebut, pengalamannya sebagai ekonom fiskal dan pejabat yang lama berada di Kementerian Keuangan dapat memberikan keberlanjutan, sementara posisi barunya memberi ruang untuk memperkuat policy ownership.
Tiga Skenario Pasar
Dalam skenario positif, Suahasil segera menegaskan batas defisit, menjaga RAPBN 2027, meningkatkan transparansi hubungan APBN dengan BPI Danantara, memperkuat penerimaan tanpa shock pajak, dan menyampaikan agenda reformasi yang lebih pro-investasi. Dalam skenario ini sovereign risk premium akan turun, yield SBN membaik, rupiah menguat secara bertahap dan foreign inflow kembali ke pasar obligasi serta pasar saham.
Dalam skenario dasar, terjadi kontinuitas kebijakan tanpa reformasi besar. Pertumbuhan tetap sekitar jalur 5,5–6 persen, defisit terkendali tetapi pasar masih meminta premium karena risiko global dan harga minyak. Rupiah stabil tetapi volatil, SBN tetap menarik karena yield, dan IHSG bergerak selektif berdasarkan laba Perusahaan emiten.
Dalam skenario negatif, pasar melihat fiscal anchor melemah, pembiayaan program prioritas tidak transparan, intervensi meningkat, atau koordinasi fiskal-moneter menimbulkan pertanyaan mengenai independensi institusi. Dalam kondisi tersebut foreign investors dapat kembali mengurangi eksposur, rupiah tertekan, yield SBN naik dan valuasi IHSG turun.
Saat tulisan ini dibuat, terlalu dini menentukan skenario mana yang akan terjadi. Justru kebijakan dan komunikasi dalam 30–100 hari pertama akan menentukan probabilitas masing-masing skenario.
Momentum untuk Reset Kredibilitas
Pergantian Purbaya kepada Suahasil Nazara dapat dibaca sebagai risiko, tetapi juga dapat menjadi kesempatan, karena Suahasil berasal dari dalam Kementerian Keuangan dan telah lama terlibat dalam desain kebijakan fiskal, transition risk relatif lebih rendah dibandingkan apabila pemerintah menunjuk figur yang sama sekali baru dari luar pemerintahan (Kemenkeu).
Namun continuity of personnel tidak otomatis berarti continuity of credibility. Kredibilitas harus dibuktikan melalui keputusan. Pasar akan menilai APBN 2027, strategi penerimaan, pembiayaan SBN, pengelolaan subsidi energi, hubungan dengan BPI Danantara, respon terhadap harga minyak, dan cara pemerintah menjaga institutional checks and balances.
Target pertumbuhan 6% membutuhkan keberanian. Tetapi keberanian kebijakan tidak sama dengan mengabaikan constraint. Justru keberanian terbesar adalah mengatakan program mana yang produktif, mana yang harus diperbaiki, dan mana yang tidak layak diteruskan ketika manfaat ekonominya tidak sebanding dengan biaya fiskalnya.
Penutup: Pasar Akan Memberi Waktu, tetapi Tidak Tanpa Syarat
Suahasil Nazara memasuki kursi Menteri Keuangan dengan satu keuntungan besar, yaitu pasar sudah mengenalnya. Ia bukan orang asing bagi APBN, investor maupun lembaga internasional. Ini dapat mengurangi initial uncertainty. Tetapi tantangan yang diwarisinya juga besar. Pemerintah ingin pertumbuhan lebih cepat, sementara harga minyak tinggi, global rates masih keras, rupiah belum sepenuhnya kuat dan investor asing masih sensitif terhadap perubahan institusi ekonomi Indonesia.
Karena itu tugas Menteri Keuangan baru bukan sekadar menjaga kas negara. Ia harus menjaga tiga kepercayaan sekaligus: kepercayaan Presiden bahwa APBN dapat mendukung agenda pembangunan, kepercayaan masyarakat bahwa kebijakan fiskal meningkatkan kesejahteraan, dan kepercayaan investor bahwa Indonesia tetap dikelola dengan disiplin dan predictable.
Jika Suahasil mampu menyatukan antara growth ambition dengan fiscal credibility, maka pergantian ini justru dapat menjadi momentum reset bagi ekonomi Indonesia. Target pertumbuhan 6% akan terlihat bukan sebagai angka politik, tetapi sebagai target yang didukung investasi, produktivitas dan kebijakan yang konsisten.
Pasar pada akhirnya tidak menuntut Menteri Keuangan yang selalu konservatif atau selalu ekspansif. Pasar membutuhkan Menteri Keuangan yang dapat dipercaya. Dalam ekonomi terbuka, trust itulah aset fiskal yang paling mahal dan paling cepat hilang ketika kebijakan kehilangan arah.
Mari kita tunggu kebijakan Suahasil.
