Danamon Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% di Tengah Perlambatan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) memproyeksikan perekonomian Indonesia tetap tumbuh sekitar 5,2% pada 2026 meski ekonomi global menghadapi tekanan dari tingginya harga energi, suku bunga yang masih tinggi, dan perlambatan pertumbuhan.
Lead Economist Danamon Irman Faiz mengatakan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5% pada 2025 menjadi 3% pada akhir 2026. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik yang mendorong inflasi dan memperketat kondisi keuangan global.
"Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Irman dikutip Senin (14/9/2026).
Baca Juga
Perkuat Pasar Valas, Bank Danamon Raih Penghargaan Indonesia FX Awards
Menurut Irman, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan ditopang investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik, serta kebijakan pemerintah yang mendorong perekonomian nasional.
Investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) juga menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, dan pengembangan pusat data yang mulai menjadi sumber pertumbuhan baru.
Meski demikian, Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya akibat tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama.
Volatilitas pasar keuangan global serta perubahan arah kebijakan moneter negara maju juga berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah.
Baca Juga
Bank Danamon Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa NTT
Di sisi lain, Bank Indonesia terus memperkuat pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik, untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan arus modal global.
Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia Yansen Lokanata mengatakan sejumlah kebijakan telah diterapkan untuk memperkuat pasar valuta asing domestik, antara lain pengembangan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).
Menurut Yansen, VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik. Kebijakan tersebut juga diharapkan meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar valuta asing serta mendukung stabilitas nilai tukar.
"Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global," ujar Yansen.
