Mesin Ekonomi di Daerah Menyala, Pertumbuhan 6% Bukan Angan-Angan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 bukan hanya ambisi. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan semakin banyak provinsi dan kabupaten/kota mampu mencatatkan pertumbuhan sedikitnya 6%, sekaligus menunjukkan mesin ekonomi mulai bergerak lebih luas di berbagai daerah.
Ekonom nasional yang juga Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal Hastiadi, Selasa (8/9/2026), mengatakan sejumlah ekonom masih meragukan target pertumbuhan 6% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Keraguan juga diarahkan pada tekad pemerintah mewujudkan pertumbuhan yang lebih merata melalui berbagai program prioritas.
Baca Juga
Setahun Menjabat, Purbaya Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Dekati 6% pada 2026
Program tersebut, antara lain, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, renovasi sekolah, serta perbaikan rumah rakyat. Pemerintah juga mendorong agar proyek renovasi sekolah dan rumah dikerjakan oleh kontraktor serta pelaku usaha daerah sehingga belanja negara dapat berputar dan menciptakan efek berganda di tingkat lokal.
Namun, menurut Fithra, data BPS yang dirilis pada 7 September 2026 memberikan dasar optimisme. Data itu menunjukkan bahwa jumlah provinsi dengan pertumbuhan ekonomi sedikitnya 6% meningkat dari empat provinsi pada kuartal I-2025 menjadi delapan provinsi pada kuartal I-2026.
Perkembangan serupa terlihat pada data semester pertama. Pada semester I-2025, baru empat provinsi yang mencatatkan pertumbuhan 6% atau lebih. Jumlahnya bertambah menjadi tujuh provinsi pada semester I-2026.
Penyebaran pertumbuhan tinggi bahkan terlihat lebih kuat pada tingkat kabupaten dan kota. Jumlah kabupaten/kota yang tumbuh minimal 6% bertambah dari 80 daerah pada kuartal I-2024 menjadi 101 daerah pada kuartal I-2025, kemudian mencapai 118 daerah pada kuartal I-2026. Dalam dua tahun, jumlah daerah dengan pertumbuhan sekurang-kurangnya 6% meningkat 47,5%.
Pada semester I-2025, terdapat 76 kabupaten/kota dengan pertumbuhan ekonomi minimal 6%. Angkanya kemudian bertambah menjadi 99 daerah pada semester I-2026. Selain itu, sebanyak 358 dari total 514 kabupaten/kota—atau hampir 70%—mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi pada kuartal I-2026 dibandingkan kuartal I-2024.
“Data ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai semakin tersebar. Semakin banyak daerah mampu tumbuh 6%, bahkan sebagian jauh melampaui angka tersebut,” kata Fithra.
Sejumlah provinsi menunjukkan tren pertumbuhan yang meningkat secara konsisten selama kuartal I dalam tiga tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Gorontalo, misalnya, naik dari 4,37% pada kuartal I-2024 menjadi 6,08% pada periode yang sama 2025 dan kembali meningkat menjadi 7,68% pada kuartal I-2026.
Kepulauan Riau juga mencatatkan kenaikan pertumbuhan dari 5% menjadi 5,16%, kemudian melonjak menjadi 7,04%. Pertumbuhan Sulawesi Selatan meningkat dari 4,82% menjadi 5,79% dan mencapai 6,88%, sedangkan Kalimantan Barat tumbuh dari 4,98% menjadi 5% dan selanjutnya 6,14%.
Akselerasi lebih tinggi terjadi di sejumlah kabupaten dan kota. Halmahera Timur membukukan pertumbuhan dari 5,64% pada kuartal I-2024 menjadi 26,25% pada kuartal I-2025 dan 32,87% pada kuartal I-2026. Rote Ndao juga mencatatkan lonjakan dari 2,71% menjadi 6,19% dan kemudian 15,68%.
Pertumbuhan Sinjai meningkat dari 5,02% menjadi 5,32% dan selanjutnya 11,14%. Pohuwato tumbuh dari 3,48% menjadi 6,86% dan mencapai 10,48%, sedangkan Gowa mencatatkan kenaikan dari 4,44% menjadi 6,79% dan kemudian 9,05%.
Tren penguatan juga terlihat di Tana Toraja yang tumbuh dari 6,39% menjadi 8,23% dan 8,29%. Pertumbuhan Mempawah meningkat dari 5,18% menjadi 5,93% dan mencapai 8,25%, sementara Kendal mencatatkan pertumbuhan dari 5,13% menjadi 6,31% dan selanjutnya 7,86%.
Baca Juga
Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2026 Aman, Meski Ada Bencana
Fithra menilai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa target pertumbuhan nasional 6% atau lebih dapat dicapai apabila pemerintah mampu menjaga momentum dan menerapkan kebijakan ekonomi secara tepat. Mesin pertumbuhan itu sudah hidup di banyak daerah, tetapi skalanya masih harus diperluas agar mampu mengangkat perekonomian nasional secara keseluruhan.
Pertumbuhan Ekonomi 6% Bukan Angan
Tantangan berikutnya ialah memastikan pertumbuhan tinggi tidak hanya ditopang oleh satu proyek besar atau lonjakan aktivitas pada sektor tertentu. Pertumbuhan tersebut harus berlangsung berkelanjutan, menyerap tenaga kerja lokal, memperkuat kapasitas produksi daerah, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Karena itu, pemerintah perlu terus mengawal industrialisasi dan investasi di daerah, menjaga daya beli masyarakat, serta memperluas keterlibatan pelaku usaha lokal dalam program pembangunan. Pemerintah juga harus memastikan investasi terhubung dengan rantai pasok domestik sehingga manfaat pertumbuhan tidak berhenti pada angka statistik.
“Dengan kebijakan ekonomi yang tepat dari Presiden Prabowo, pertumbuhan 6% atau lebih bukan angan-angan. Mesin pertumbuhannya sudah hidup di banyak daerah. Tugas berikutnya adalah memperluas dan mengawal industrialisasi serta investasi, menjaga daya beli, dan memastikan pertumbuhan tinggi menciptakan pekerjaan dan kesejahteraan bagi masyarakat di setiap daerah,” ujar Fithra.
