Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS, Pasar Menanti Respons The Fed atas Inflasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,33% terhadap dolar AS menjadi Rp 17.784 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
Pelemahan nilai tukar mata uang, tidak hanya terjadi pada rupiah. Ringgit Malaysia terpantau melemah 0,02%, yuan China melemah 0,04%, dan peso Filipina melemah 0,08%.
Sementara itu, beberapa nilai tukar mata uang terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,01%, won Korea Selatan menguat 0,42%, dan dolar Singapura menguat 0,06%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan indeks dolar AS atau DXY meningkat 0,25% menjadi 99,17 karena kenaikan imbal hasil Treasury memberikan dukungan terhadap dolar AS (USD).
Investor terus mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, dengan perhatian pasar terpusat pada respons kebijakan The Fed di tengah kekhawatiran inflasi yang masih berlanjut.
Perkembangan inflasi terbaru semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan restriktif dalam waktu yang lebih lama.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melemah 0,01% ke Posisi Rp 17.725 per Dolar AS
Prospek kebijakan The Fed pada September masih berada dalam posisi yang seimbang. Pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 40% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada September, dibandingkan sekitar 60% untuk mempertahankan suku bunga.
Perkembangan inflasi yang lebih kuat telah meningkatkan sensitivitas pasar terhadap kemungkinan komunikasi The Fed yang lebih hawkish, sementara investor menantikan arahan Warsh mengenai risiko inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan.
Sementara itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi risiko utama bagi pasar, meskipun meredanya kekhawatiran mengenai potensi gangguan di Selat Hormuz terus menekan harga minyak. Harga minyak mentah Brent turun 0,84% menjadi US$ 87,8 per barel seiring investor memantau perkembangan diplomatik antara Iran dan Oman serta implikasinya terhadap risiko pasokan energi di kawasan.
Dari dalam negeri, Andry mencatat bahwa pasar obligasi Indonesia melemah, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat 3,9 bps menjadi 7,05%, sementara imbal hasil INDON tenor 10 tahun turun 5,3 bps menjadi 5,65%.
Investor asing mencatatkan arus masuk bersih sebesar Rp 11,7 triliun ke obligasi pemerintah pada 20 Agustus, sehingga aliran dana asing ke pasar obligasi mencatatkan arus masuk bersih sebesar Rp 16,6 triliun secara month to date dan Rp 30,4 triliun secara year to date. Total kepemilikan asing mencapai Rp 909,0 triliun atau 12,97% dari total obligasi yang beredar.
