Defisit Transaksi Berjalan Membesar, Rupiah Tergelincir ke Rp 17.721 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan awal pekan dengan pelemahan. Tekanan ganda dari pelebaran defisit transaksi berjalan dalam negeri serta memanasnya konfrontasi ekonomi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi penekan utama mata uang Garuda pada perdagangan Senin (24/8/2026).
Berdasarkan data perdagangan valuta asing sore ini, rupiah ditutup melemah 27 poin ke tingkat Rp 17.721 per dolar AS. Mata uang Garuda sempat menguat tipis 2 poin sebelum akhirnya tergerus dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (25/8/2026) besok masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung berlanjut melemah di kisaran Rp17.720 hingga Rp17.770 per dolar AS.
Dari dalam negeri, pergerakan pasar merespon negatif rilis data Transaksi Berjalan Indonesia triwulan II 2026 yang mencatatkan pelebaran defisit secara signifikan menjadi US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini membengkak tajam dibandingkan defisit triwulan I 2026 yang tercatat sebesar US$ 3,6 miliar (1% PDB).
“Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipicu oleh lonjakan nilai impor minyak mentah seiring masih tingginya harga minyak dunia,” tulis Ibrahim dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) memperkirakan faktor pelebaran defisit ini bersifat temporer.
Secara keseluruhan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dipastikan tetap terjaga. Defisit NPI pada triwulan II 2026 tercatat US$ 900 juta, membaik drastis dibanding defisit US$ 9,1 miliar pada triwulan sebelumnya. Perbaikan ini didukung oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik surplus US$ 12 miliar.
Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2026 masih solid sebesar US$ 145,6 miliar, atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor—berada di atas standar kecukupan internasional.
Baca Juga
Sentimen Eksternal: Ancaman Sanksi AS dan "D-Day Ekonomi" Iran
Dari eksternal, indeks dolar AS menguat disokong oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Pemerintah AS menyatakan akan mengumumkan paket sanksi terkeras yang pernah ada terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan dalam artikel op-ed Financial Times bahwa "D-Day ekonomi" bagi Iran telah tiba.
Eskalasi perang ekonomi ini dipicu oleh aksi saling gertak di Selat Hormuz. Pihak Iran menegaskan tidak akan ada ekspor minyak yang melintasi Hormuz jika perang ekonomi berlanjut.
“Akibatnya, pasokan minyak Iran ke Tiongkok mulai berkurang dan harganya melonjak drastis,” ungkap Ibrahim.
Di sisi lain, ekonomi AS menunjukkan performa solid dengan Indeks PMI Jasa S&P Global bulan Agustus yang melonjak ke angka 56,8—level tertinggi sejak Desember 2024. Kombinasi penguatan ekonomi AS dan ancaman inflasi energi akibat krisis Timur Tengah ini memperbesar peluang Bank Sentral AS (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dalam beberapa bulan mendatang.
“Para analis memperingatkan bahwa kesenjangan transaksi berjalan Indonesia berpotensi terus berlanjut seiring tingginya harga minyak mentah serta berlanjutnya ketegangan politik global baik di Timur Tengah maupun Eropa Timur,” tutur pengamat ekonomi tersebut.

