Utang Luar Negeri Indonesia Sentuh US$ 453,4 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai US$ 453,4 miliar. Angka ini tumbuh 4,4% secara tahunan.
Utang luar negeri Indonesia pada kuartal II-2026 ini tumbuh 2,02% secara kuartalan. Per Mei 2026, utang luar negeri Indonesia sebesar US$ 444,4 miliar.
Pertumbuhan utang luar negeri pada kuartal II-2026 didorong peningkatan utang luar negeri publik, baik pemerintah maupun bank sentral. Sementara itu, terjadi kontraksi atas utang luar negeri swasta.
Posisi utang luar negeri pemerintah pada kuartal II-2026 tercatat sebesar US$ 216,3 miliar atau tumbuh 2,9% secara tahunan. Perkembangan utang luar negeri pemerintah dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN). Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga.
Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola utang luar negeri secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.
Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan utang luar negeri terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan utang luar negeri.
Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri pemerintah paling besar dimanfaatkan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial yaitu 22,0% dari total utang luar negeri pemerintah. Utang pemerintah juga dimanfaatkan untuk sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6% dari total, jasa pendidikan sebesar 16,2% dari total, konstruksi sebesar 11,5% dari total, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5% dari total.
Baca Juga
“Posisi utang luar negeri pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh utang luar negeri pemerintah merupakan utang jangka panjang,” tulis BI.
Sementara itu, peningkatan utang luar negeri bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat.
Utang luar negeri swasta melanjutkan kontraksi. Posisi utang luar negeri swasta pada kuartal II-2026 tercatat sebesar US$ 194,6 miliar atau mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan kontraksi 1,3% secara tahunan pada kuartal I-2026.
Perkembangan tersebut terutama didorong oleh utang luar negeri lembaga keuangan (financial corporations) yang terkontraksi 3,4% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi 6,3% secara tahunan pada kuartal I-2026.
Berdasarkan sektor ekonomi, posisi utang luar negeri swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,4% dari total utang luar negeri swasta.
“Utang luar negeri swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7% terhadap total utang luar negeri swasta,” kata BI.
Struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,6% pada kuartal II-2026 dan didominasi oleh utang luar negeri jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1% dari total utang luar negeri.
Dalam rangka menjaga agar struktur utang luar negeri tetap sehat, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan utang luar negeri. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran utang luar negeri untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

