Kemenperin: Digitalisasi Bukan untuk PHK, 9 Juta Talenta Digital Dibutuhkan hingga 2030
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi percepatan transformasi digital dan penerapan teknologi artificial intelligence (AI) di sektor industri.
Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Andi Rizaldi menyebutkan, berdasarkan data Future of Jobs Report 2035 dari World Economic Forum, kebutuhan talenta digital Indonesia mencapai sekitar 9 juta orang hingga 2030 untuk menopang perkembangan ekonomi dan transformasi industri nasional.
Menurutnya, perkembangan teknologi memang berpotensi menghilangkan sejumlah pekerjaan yang bersifat repetitif. Namun, pada saat yang sama, transformasi digital juga menciptakan jenis pekerjaan baru yang membutuhkan kompetensi berbeda.
"Jadi bukan berarti dengan digitalisasi ini kita mem-PHK-kan orang, tapi kita coba memberikan reskilling dan upskilling," ujar Andi dalam acara Indonesia Technology and Innovation (INTI) 2026 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Maka dari itu, Andi menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya program peningkatan kompetensi pekerja agar dapat mengikuti perubahan kebutuhan industri. Ia juga mengatakan kalau pihaknya telah menjalankan program reskilling dan upskilling untuk membantu tenaga kerja beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Baca Juga
Kemenperin: Digitalisasi Berpotensi Ciptakan Lapangan Kerja 2 Kali Lipat
"Sehingga diharapkan dengan digitalisasi ini terjadi penambahan SDM, bukan pengurangan SDM," ungkap Andi Rizaldi.
Lebih lanjut, Andi juga menegaskan, penerapan teknologi AI juga harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Menurutnya, AI perlu dimanfaatkan oleh pelaku usaha, termasuk industri kecil dan menengah (IKM), untuk meningkatkan efisiensi produksi maupun proses bisnis.
Kemenperin saat ini mendorong IKM untuk mengadopsi teknologi dalam proses produksi dan bisnis, termasuk melalui program e-smart manufacturing, fasilitasi onboarding ke platform digital, serta pengenalan pemanfaatan AI untuk pemasaran.
"Jadi kita tidak perlu lagi membicarakan digitalisasi atau tidaknya transformasi ini, tetapi lebih fokus pada bagaimana transformasi ini bisa memberikan benefit untuk sebesar-besar kesejahteraan dan kemampuan rakyat Indonesia," papar Andi.

