Kominfo: RI Butuh 9 Juta Talenta Digital untuk Genjot PDB 2030
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Nezar Patria mengungkapkan, Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital di tahun 2030. Sebab, pada saat itu pertumbuhan ekonomi digital diasumsikan menyumbang cukup besar untuk PDB nasional.
“Ini konsekuensi dari transformasi digital secara global, di mana tumbuhnya ekonomi digital. Karena pertumbuhan yang cepat di masa depan itu, kita membutuhkan talent digital yang menguasai kemampuan-kemampuan spesifik untuk mendukung industri digital,” kata Nezar Patria di The Ritz Carlton Jakarta, Senin (18/12/2023).
Nezar pun memaparkan sejumlah kemampuan yang dibutuhakn tersebut seperti data sains, mengerti tentang AI, mengerti machine learning, hingga data governance. Mengingat mengumpulkan 9 juta talent digital bukan hal mudah, maka Kemenkominfo pun menyiapkan sejumlah program untuk masyarakat.
Baca Juga
Pertamina dan JOGMEC Jepang Kolaborasi dalam Pengukuran dan Penaksiran Emisi Metana
“Kita punya yang namanya Digital Talent Scholarship yang memberikan beasiswa buat sejumlah generasi muda kita untuk bisa menguasai hal-hal yang spesifik dari keterampilan digital. Lalu ada lagi digital leadership, satu pendidikan yang lebih khusus buat mereka yang sudah mencapai C-Level,” sebutnya.
Nezar menekankan, dari setiap tahap itu harus dilakukan secara konsisten, karena transformasi digital dipandang sebagai suatu keniscayaan. Nantinya, talent-talent digital tersebut akan diserap oleh pasar dan pada akhirnya berkontribusi terhadap PDB nasional.
Diharapkan oleh Nezar program-program dari Kemenkominfo tersebut akan terus berlangsung sampai tahun 2030. Sehingga proyeksi kebutuhuan untuk talent digital yang 9 juta orang itu bisa dicapai. Saat ini, talent digital yang ada di Indonesia masih sekitar 15%-16%.
Baca Juga
“Karena kalau kita gak capai itu, kita akan sulit untuk bisa catch-up dengan ekosistem bisnis digital yang akan tumbuh di masa depan. Sementara kita punya program menjadi top 5 ekonomi di dunia pada tahun 2030, dan juga kita punya bonus demografi dari 2030 sampa-2045,” tegas Nezar.
Nezar menyampaikan, perkembangan teknologi yang terjadi secara global belakang ini menuntut kesiapan negara-negara, terutama yang emerging market seperti Indonesia untuk bisa mengadopsi emerging technologies. Maka dari itu, ini merupakan langkah strategis yang harus dilakukan. (CR-8)

