Menkominfo Ungkap Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital hingga 2030
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menyatakan Indonesia masih butuh lebih banyak talenta digital untuk mendukung investasi di sektor teknologi informasi.
Dia mengatakan, saat ini, Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sedangkan kapasitas pengembangan talenta digital saat ini hanya bisa memenuhi kurang dari 20% dari kebutuhan tersebut.
“Perkembangan investasi teknologi digital itu memerlukan jumlah yang besar, termasuk juga sumber daya manusia (SDM) agat bisa bersaing dalam pengembangan dan (meningkatkan) kemajuan teknologi kita,” katanya ketika ditemui di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2024).
Baca Juga
Insentif untuk Tarik Investasi Pusat Data, Begini Tanggapan Anak Buah Luhut
Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) masih terus berupaya untuk meningkatkan jumlah talenta digital di Tanah Air. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri, termasuk di antaranya adalah raksasa teknologi dunia seperti Google Inc. dan Microsoft Corp.
Selain mengoperasikan perangkat teknologi informasi termutakhir, pengembangan talenta digital di Indonesia juga diarahkan pada pengembangan infrastruktur teknologi informasi. Salah satu tujuannya adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam industri manufaktur perangkat teknologi informasi, khususnya perangkat untuk menunjang pusat data.
“Itu kita upayakan juga digital talent (talenta) digital kita harus mumpuni untuk itu. Harus ditingkatkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Deputi Bidang Transportasi dan Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Rachmat Kaimuddin berharap investasi pusat data yang masuk ke Indonesia datang berbarengan dengan investasi manufaktur peralatan pendukungnya di dalam negeri. Selain itu, investasi tersebut diharapkan bisa meningkatkan jumlah talenta digital lewat transfer teknologi terkait, termasuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga
"Yang kita dapatkan selain masuk (investasinya), manufaktur atau perakitan server-nya juga. Terus misalnya juga (pelatihan) orang-orang yang mengerti data center (pusat data) dan AI ini perlu kita bundle (satu paket). Jangan sampai mereka taruh (fasilitasnya), kita dapat fee (pembayaran) saja," katanya ketika ditemui di kantor Kemenko Marves, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2024).
Rachmat menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi tempat perusahaan teknologi dunia untuk menempatkan fasilitas penyimpanan dan pengolahan datanya.
"Bisa enggak kita hilirisasi (lakukan penghiliran), server (peladen) dirakit di Indonesia, buka lapangan kerja baru. Kalau enggak ya kita jadi tempat parkir. Strategi kita kan untuk meningkatkan multiplier effect (efek berganda)," tegasnya.

