Sektor Luar Negeri Diabaikan, Indonesia Terlalu ‘Inward Looking’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mengabaikan sektor luar negeri dan terlalu berorientasi ke dalam negeri (inward looking) merupakan salah satu kelemahan mendasar kebijakan ekonomi Indonesia saat ini. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional sulit melesat dan cenderung bertahan di kisaran 5%, jauh di bawah negara-negara pesaing seperti Vietnam yang mampu menorehkan pertumbuhan ekonomi 8,3%.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Prof Didik J Rachbini menilai berbagai upaya pemerintah selama ini lebih banyak berorientasi ke dalam negeri (inward looking). Beragam kebijakan ekonomi terus diluncurkan untuk menggerakkan konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi domestik, namun belum mampu mendorong lompatan pertumbuhan yang signifikan.
“Seluruh upaya dan dinamika kebijakan ekonomi selama ini terlalu inward looking. Fokusnya lebih banyak pada sektor domestik. Sebaliknya, sektor luar negeri belum menjadi perhatian utama sebagai mesin pertumbuhan ekonomi,” kata Didik dalam keterangan di Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Menurut Didik Rachbini, selama orientasi kebijakan tidak berubah, Indonesia akan sulit mengejar laju pertumbuhan negara-negara yang berhasil memanfaatkan pasar global sebagai penggerak utama ekonomi. Vietnam adalah salah satu contoh yang berhasil menerapkan strategi tersebut. Alhasil, negaraitu mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga
Prof Didik menegaskan, transformasi kebijakan menuju pendekatan yang lebih outward looking perlu segera dilakukan. Dengan orientasi tersebut, Indonesia dapat menarik lebih banyak investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) melalui sistem insentif yang kompetitif, dukungan infrastruktur yang memadai, serta birokrasi yang efisien dan ramah investasi.
Ia meyakini investasi asing dan investasi domestik tidak harus saling menggantikan. Sebaliknya, keduanya dapat tumbuh secara bersamaan jika didukung kebijakan yang berorientasi ekspor dan terintegrasi dengan rantai pasok global.
“Jika kebijakan ekonomi lebih outward looking, investasi luar negeri akan masuk dan investasi domestik juga berkembang. Pada saat yang sama, sektor industri akan tumbuh lebih kuat karena ditopang sumber daya nasional yang besar,” ujar dia.
Didik menjelaskan, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan ekonomi saat ini apabila ingin mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 7-8%. Tanpa perubahan orientasi kebijakan, target tersebut sulit tercapai.
“Kalau hanya mengandalkan sumber daya dan pasar domestik, Indonesia kemungkinan besar akan tetap berada pada pertumbuhan moderat sekitar 5% atau bahkan lebih rendah. Janji pertumbuhan ekonomi tinggi akan sulit diwujudkan tanpa perubahan kebijakan yang mendasar,” tegas dia.
Meski demikian, Didik mengakui, Indonesia tidak sepenuhnya mengabaikan sektor luar negeri. Aktivitas ekspor, investasi asing, hingga program hilirisasi tetap berjalan. Namun, sektor eksternal belum ditempatkan sebagai motor utama transformasi struktural dan industrialisasi nasional.
Dia mengungkapkan, saat ini kebijakan ekonomi masih relatif berfokus pada pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi dalam negeri. Ke depan, orientasi tersebut perlu diimbangi strategi yang lebih agresif untuk menembus pasar internasional melalui peningkatan daya saing industri, ekspor, serta pemanfaatan peluang dari pergeseran rantai pasok global.
Didik menjelaskan, bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik merupakan kekuatan penting. Namun, pasar domestik saja tidak cukup untuk menciptakan industrialisasi berkelas dunia.
“Dunia usaha Indonesia harus naik kelas dengan bersaing di pasar global. Mereka perlu didorong dan diberi kesempatan untuk menembus pasar internasional sehingga mampu menghasilkan devisa yang lebih besar,” tutur dia.
Ia mengingatkan, Indonesia pernah memiliki pengalaman sukses menerapkan strategi outward looking. Pada dekade 1980-an, pemerintah mendorong investasi dan industri berorientasi ekspor yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 7-8% dalam periode yang panjang.
“Indonesia pernah memiliki best practice. Kebijakan yang mendorong investasi dan industri berorientasi ekspor terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan tinggi selama bertahun-tahun. Pemerintah tinggal mengulangi strategi yang pernah berhasil tersebut,” tandas dia.
Baca Juga
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 18,62%, Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Sebesar 5,29%
Di sisi lain, menurut Didik Rachbini, belanja pemerintah tidak dapat terus-menerus dijadikan andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi. Kapasitas fiskal memiliki keterbatasan, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran.
Belanja pemerintah, kata dia, lebih berfungsi sebagai penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak turun di bawah 5%. Namun, peran tersebut hanya efektif dalam jangka pendek dan tidak cukup kuat untuk menciptakan akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Prof Didik menambahkan, konsumsi rumah tangga juga menghadapi tantangan karena jumlah kelas menengah yang terus tergerus dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuat daya dorong konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi semakin terbatas.
“Karena itu, penguatan sektor luar negeri melalui strategi ekspor, investasi, dan integrasi dengan pasar global menjadi pilihan yang tidak bisa ditunda jika Indonesia ingin keluar dari jebakan pertumbuhan moderat dan naik ke level pertumbuhan yang lebih tinggi,” papar dia.

