Perekonomian Masih Kena 'Di-doping' APBN, Indef Sodorkan Tiga Resep Pembenahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyodorkan tiga rekomendasi utama kepada pemerintah guna membenahi kualitas pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua tahun 2026. Langkah ini dinilai mendesak lantaran capaian pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 sebesar 5,29% dianggap semu karena terlalu bergantung pada stimulus fiskal serta menyisakan persoalan serius di sektor tenaga kerja dan kemiskinan perdesaan.
Direktur Big Data Indef, Eko Listiyanto, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh terlena dengan angka pertumbuhan makro yang masih di atas 5%. Menurutnya, tanpa perbaikan mendasar pada daya beli organik dan penyerapan tenaga kerja, laju perekonomian di semester kedua berisiko mengalami penurunan kualitas yang makin tajam.
"Untuk menyikapi berbagai kecemasan terkait kualitas pertumbuhan di triwulan kedua ini, ada tiga hal utama yang kami sarankan kepada pemerintah agar manfaat pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan secara merata dan berkelanjutan," ujar Eko dalam diskusi publik yang digelar secara daring, Kamis (6/8/2026).
Guna memperkuat fondasi ekonomi di paruh kedua 2026, Indef merinci tiga formulasi kebijakan yang harus segera dieksekusi pemerintah. Pertama, pemerintah didorong untuk fokus memperkuat daya beli organik masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja formal secara masif. Langkah ini sangat krusial mengingat porsi pekerja informal nasional saat ini masih sangat dominan hingga mendekati 60%.
Penciptaan kerja formal dinilai bakal memberi kepastian pendapatan serta jaminan perlindungan sosial yang layak tanpa membuat masyarakat terus-menerus bergantung pada bantuan sosial.
Kedua, Indef meminta pemerintah mempercepat penyediaan program reskilling dan upskilling bagi para pelaku usaha di sektor perdagangan. Percepatan transisi ke ekosistem digital ini mendesak dilakukan demi mengatasi anomali sektor perdagangan yang tumbuh tinggi hingga 6,39%, namun justru mencatatkan pengurangan penyerapan tenaga kerja sebanyak 128 ribu orang per Mei 2026 akibat tergerus arus perdagangan online.
Baca Juga
Indef Soroti Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Bergantung pada Stimulus
Intervensi Pemberdayaan Produktif
Ketiga, pemerintah didesak merombak pendekatan jaring pengaman sosial di wilayah perdesaan dari yang semula sekadar bantuan tunai (*cash transfer*) menjadi intervensi pemberdayaan produktif.
Skema baru ini penting untuk meningkatkan pendapatan jangka panjang masyarakat desa, terlebih lagi Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan di perdesaan tercatat memburuk meski angka kemiskinan nasional secara kuantitas mengalami penurunan menjadi 7,22 juta jiwa.
Rekomendasi tersebut dirumuskan berdasarkan evaluasi Indef terhadap struktur PDB triwulan II-2026. Eko menyebut konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06% saat ini masih sangat bergantung pada 'doping' APBN, seperti dorongan program Makan Bergizi Gratis (MBG), gaji ke-13, dan bantuan sosial, yang membuat konsumsi pemerintah melesat hingga 15,97% (YoY).
"Jika intervensi atau stimulasi dari APBN ini direalokasi atau efisiensikan, konsumsi rumah tangga sangat mungkin merosot di bawah 5% karena daya beli murni masyarakat sebetulnya sedang tertekan," kata Eko.
Selain itu, perekonomian nasional juga mulai kehilangan bantalan eksternal setelah neto ekspor tercatat minus 0,78% akibat lonjakan impor (8,82%) yang melampaui kinerja ekspor (4%). Di saat yang sama, kenaikan Gini Ratio dari 0,363 menjadi 0,368 menunjukkan bahwa hasil pertumbuhan ekonomi sejauh ini masih lebih banyak dinikmati oleh masyarakat lapisan atas.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 5,61% secara tahunan.
Konsumsi rumah tangga dan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal II-2026 ini, dua komponen ini menyumbang sekitar 83,68% terhadap ekonomi.
Meski demikian, terjadi perlambatan kontribusi konsumsi rumah tangga dari 2,95% ke 2,67%, seiring memudarnya dampak positif Ramadan-Lebaran yang menopang mobilitas, transportasi, restoran, dan hotel pada kuartal I-2026.
Sementara itu, kontribusi investasi tumbuh pada kuartal II-2026. Investasi pada kuartal II-2026 berkontribusi sebesar 2,06% naik dari kontribusi kuartal I-2026 yang sebesar 1,79%.
