Ekonomi Halal Dunia Tembus Rp 41 Kuadriliun, Indonesia Justru Melorot ke Posisi 4
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi halal global kini tumbuh menjadi kekuatan raksasa yang nilainya jauh melampaui anggaran negara-negara besar, termasuk Indonesia. Namun di tengah potensi besar itu, posisi Indonesia dalam peta industri halal dunia justru menurun.
Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengungkapkan, berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy (SGIE) 2025-2026, total ekonomi halal global telah mencapai US$ 2,6 triliun atau sekitar Rp 41 kuadriliun.
“Ini adalah ekonomi yang dibangun atas fondasi kepercayaan (trust). Percaya pada bahan baku, percaya pada proses produksi, percaya pada rantai pasok, pembiayaan. It’s about trust,” ujarnya, dalam Diskusi Publik dengan tema ‘Masa Depan Ekonomi Halal RI’ yang digelar Universitas Paramadina, Rabu (22/7/2026).
Arsjad menekankan, halal bukan lagi sekadar label keagamaan, melainkan telah menjadi gaya hidup global. Di sisi bersamaan, nilai ekonomi halal turut mencerminkan etika dan nilai-nilai di balik sebuah produk.
Setara 12 Kali APBN Indonesia
Sebagai gambaran besarnya nilai ekonomi halal tersebut, ia membandingkannya dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2024, yang saat itu tercatat sekitar Rp 3.350 triliun atau setara US$ 211 miliar.
“Kalau dibandingkan nilai ekonomi halal global setara dengan kurang lebih 12 kali lipat dari APBN Indonesia tahun 2024 kemarin. Jadi kalau lihat angkanya fantastis sekali,” kata Arsjad.
Tren ini diperkirakan akan terus melesat. Pada 2029, ekonomi halal global diperkirakan menembus US$ 3,5 triliun sampai US$ 3,6 triliun. Jumlah tersebut sudah setara 17 kali dari APBN 2026.
Arsjad menambahkan, fenomena ini bukan lagi eksklusif milik negara-negara berpenduduk muslim mayoritas. Permintaan produk halal di Amerika Serikat (AS) tercatat tinggi, sementara di Jerman, produk halal bahkan telah masuk ke rantai pasok (supply chain) supermarket lokal.
“Ini sebetulnya sudah menjadi lifestyle. Jadi ini bukan pasar yang kecil, ini adalah arus besar ekonomi dunia, it’s new economy of hope, we have to realize that,” ucapnya.
Indonesia Melorot ke Peringkat Empat
Ironisnya, di tengah besarnya peluang tersebut, posisi Indonesia dalam Indikator Ekonomi Global justru turun satu peringkat, dari posisi tiga tahun lalu menjadi peringkat empat di tahun ini, kini berada di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.
Meski begitu, ada capaian yang patut diapresiasi. Sektor mode fashion Indonesia berhasil menduduki peringkat pertama dunia. Sektor media dan rekreasi berada di posisi tiga, makanan halal peringkat tiga, sementara farmasi dan kosmetik naik satu peringkat dari lima ke posisi empat.
“Ini saya punya keyakinan karena ada satu perusahaan yang memang men-drive itu besar sekali di Indonesia itu bisa menjadi yang dasar katakan sebagai role model kita ya. Nah ini ini membuat saya rasa sangat optimistis,” ujar Arsjad.
Kesenjangan Awareness dan Implementasi
Arsjad menyoroti dua sektor yang masih tertinggal jauh dari posisi lima besar, yaitu keuangan syariah dan wisata ramah muslim. Keuangan syariah Indonesia berada di peringkat delapan dunia, meski tingkat kesadaran (awareness) masyarakat terhadap keuangan syariah sesungguhnya menempati posisi tertinggi.
“Indonesia ini kan awareness rakyat kita soal keuangan syariah itu sebetulnya nomor satu. Awareness number one, tapi pelaksanaannya masih belum. Kalau dibandingkan dengan Malaysia di sektor keuangan, awareness-nya nomor tiga tapi pelaksanaannya nomor satu. Kita awareness nomor satu tapi sebetulnya nomor ke delapan. Gap antara awareness dan infrastruktur syariah ini yang perlu kita pikirkan,” katanya.
Hal serupa juga terjadi di sektor wisata ramah muslim, yang berada di peringkat enam, meski tingkat kesadaran Indonesia sebagai destinasi wisata ramah muslim tergolong tinggi. “Kita masih ketinggalan kalau bicara soal infrastruktur yang ada saya lihat,” sambung Arsjad.
