Bapanas: Realisasi Distribusi Beras SPHP Capai 678.870 Ton, Meningkat 274%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Upaya meredam fluktuasi harga pangan pokok strategis dilaksanakan pemerintah dengan menggunakan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Terlebih stok CPP dalam bentuk beras saat ini sedang melimpah ruah di gudang-gudang Perum Bulog seluruh Indonesia.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono menjelaskan pelaksanaan program SPHP beras masih sesuai target. Berkat stok beras yang lebih dari 5 juta ton, pemerintah dapat leluasa dalam melaksanakan berbagai langkah-langkah intervensi.
"Kita punya program beras SPHP tahun 2026 ini dengan target sekitar 828 ribu ton yang akan disalurkan ke masyarakat dan sampai hari ini realisasi kita sudah mencapai lebih 55%, artinya kalau sekarang sudah di tengah tahun, ini on the track," ucap Maino dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/7/2026).
Adapun dalam catatan Bapanas, realisasi penjualan program SPHP beras sejak Maret sampai 12 Juli 2026 telah mencapai 457,82 ribu ton atau 55,29 persen. Apabila ditambah realisasi SPHP beras di Januari-Februari 2026 yang 221,05 ribu ton, maka total realisasi SPHP beras dari awal Januari sampai minggu kedua Juli tahun ini berkisar di 678,87 ribu ton.
Capaian di tahun 2026 tersebut tercatat telah meningkat drastis hingga 274% terhadap realisasi SPHP beras periode yang sama di tahun 2025. Adapun realisasi SPHP beras dari awal tahun lalu sampai 9 Juli 2025 masih di angka 181,17 ribu ton saja.
"Pertama kita gelontorkan beras SPHP sebanyak 828 ribu ton ditargetkan. Kita punya outlet-outlet penyaluran SPHP cukup banyak. Ada di 9 titik. Artinya pelaksanaannya harus lebih masif, langsung penetrasi ke masyarakat, tidak di pasar saja, agar bisa langsung ke kantong-kantong masyarakat, misalnya melalui Gerakan Pangan Murah," imbuhnya.
Baca Juga
Antisipasi Lonjakan Harga, Dirut Bulog Dorong Percepatan Beras SPHP dan Amankan Stok 5,3 Juta Ton
Bapanas pun mempertegas komitmen pemerintah untuk terus menjaga kewajaran harga di setiap lini. Mulai dari hulu atau petani sampai hilir atau masyarakat sebagai konsumen. Sebisa mungkin semua pihak dapat tersenyum.
"Memang ini hulu hilir sama-sama tersenyum, artinya hari ini petani senang karena harganya baik, bahkan beberapa harga-harga di petani sudah Rp 7.500 atau ada yang Rp 8.000. Satu sisi petani happy, petani senang, tapi satu sisi juga kita harus jaga agar konsumen juga menerima harga dengan harga wajar," terang Maino.
Untuk itu, pemerintah memastikan mengucurkan kembali program bantuan pangan beras mulai Juli ini yang menyasar kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat selama 3 bulan. Program ini diyakini dapat membantu meredam harga beras di tingkat konsumen.
"Nah ini kabar baik buat masyarakat seluruh Indonesia bahwa nanti bulan Juli, Agustus, September, 3 bulan, ini ada bantuan pangan tahap kedua. Ada 3 bulan penyaluran bantuan pangan berupa beras 10 kilogram untuk sekitar 33 juta keluarga penerima manfaat," ungkap Maino.
