Rupiah Lanjutkan Pelemahan, Investor Soroti Sinyal Hawkish The Fed
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Rupiah melemah 0,07% menjadi Rp 17.855 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.
Berdasarkan pantauan di papan data Bloomberg, sejumlah mata uang di Asia bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang dan dolar Hong Kong melemah 0,01%, rupee India dan peso Filipina melemah 0,37%, dan baht Taillan melemah 0,06%. Sementara itu, ringgit Malaysia dan yuan China menguat terhadap dolar AS. Ringgit menguat 0,31% dan yuan 0,03%.
Baca Juga
RANS Gelar IPO Saham, Dony Oskaria dan Kaesang Masuk Daftar Pemegang Saham
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, penguatan dolar AS sejalan dengan kenaikan indeks Dolar AS (DXY) ke level 101. Angka ini tertinggi dalam lebih dari satu tahun, seiring kembalinya investor dari libur panjang dan kembali mencermati perkembangan di Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter.
AS dan Iran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final untuk mengakhiri konflik dalam waktu 60 hari, dengan Menteri Luar Negeri Iran menyebut telah terjadi "kemajuan" dalam negosiasi. Perkembangan ini turut mendorong penurunan harga minyak.
Pekan ini, dimulainya kembali lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz akan menjadi perhatian utama setelah AS dan Iran sepakat mencabut blokade angkatan laut.
Baca Juga
Pasar terus memperkirakan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga Fed Funds tahun ini, menyusul nada hawkish dari The Fed pekan lalu serta revisi naik terhadap proyeksi inflasi.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data PCE minggu ini, yang mencakup indikator inflasi pilihan The Fed dan diharapkan memberikan gambaran terbaru mengenai tekanan inflasi. "Dolar AS menguat paling signifikan terhadap yen Jepang di tengah meningkatnya kekhawatiran intervensi, sementara terhadap mata uang lainnya melemah tipis," kata Andry.
