Purbaya Pamer Ketangguhan Ekonomi RI di China
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa memamerkan berbagai pencapaian ekonomi Indonesia di China, dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), kredit perbankan, hingga angka kemiskinan. Semua indikator menunjukkan ketangguhan ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal.
Purbaya mengungkapkan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara G20 dan ASEAN. Capaian itu didukung stabilitas harga yang tetap terjaga. Per Mei 2026, inflasi Indonesia tercatat 3,08%.
"Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB kuartal I-2026 sebesar 5,61% (yoy), mengungguli banyak negara G20 dan ASEAN," ujar Purbaya saat menyampaikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin, China, seperti dikutip Antara, Sabtu (20/6/2026).
Baca Juga
Pada saat yang sama, menurut Purbaya, Indonesia berhasil mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08% (yoy). “Perkembangan itu membuktikan bahwa Indonesia memasuki kuartal I-2026 dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel,” tutur dia.
Purbaya juga menyoroti ketahanan Indonesia dalam menghadapi risiko gangguan energi global. Indonesia berada pada kelompok negara dengan tingkat eksposur rendah dan memiliki bantalan (buffer) yang kuat. Skor ketahanan energi Indonesia mencapai 77%, sedikit di atas China sebesar 76%.
Dia menjelaskan, ketahanan tersebut ditopang pengelolaan fiskal yang hati-hati (prudent) dengan defisit anggaran yang tetap dijaga di bawah 3% terhadap PDB. Alhasil, APBN memiliki ruang yang memadai untuk meredam gejolak eksternal.
Selain itu, kata Menkeu, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap solid, antara lain Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang berada di level ekspansif 50,0, pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) sebesar 14,8% (yoy), dan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11,5% (yoy).
“Dari sisi eksternal, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut dengan cadangan devisa mencapai US$ 144,9 miliar setara 5,6 bulan impor dan mampu melakukan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” papar dia.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat juga tecermin pada perbaikan pasar tenaga kerja. Sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta sehingga tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,68% pada 2026. “Tingkat kemiskinan turun dari 8,57% per September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025, didukung efektivitas program perlindungan sosial,” tutur dia.
Menkeu mengemukakan, untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah menjalankan delapan klaster program prioritas nasional yang akan menerjemahkan strategi pembangunan ke dalam hasil nyata.
"Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional, yakni kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana," ucap dia.
Baca Juga
Purbaya menambahkan, pemerintah sedang mempercepat transformasi struktural melalui hilirisasi dan industrialisasi, memperkuat ekonomi kerakyatan dan pembangunan perdesaan, serta memperdalam pengentasan kemiskinan melalui program bantuan sosial dan lapangan kerja yang terintegrasi.
Program-program ini, menurut Purbaya, akan diperkuat oleh sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi. Hal itu bertujuan agar pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pertumbuhan, tetapi juga bersifat inklusif, tangguh, dan terkoordinasi dengan baik.
"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, tetapi juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata," tandas Purbaya.
