Menko Airlangga Sebut Investor Jerman Tetap Setia Investasi di RI, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan fluktuasi harian yang terjadi di pasar keuangan dalam negeri belakangan ini tidak memengaruhi minat investasi jangka panjang dari para pengusaha asal Jerman.
Menurut Airlangga, para investor dari negara ekonomi terbesar di Uni Eropa tersebut memiliki komitmen investasi jangka panjang atau long-term investment di Indonesia, sehingga pergerakan pasar saham atau keuangan harian tidak menjadi indikator utama dalam membidik potensi di tanah air.
"Mereka kan semua long-time investor, jadi view-nya tidak harian. Tidak memonitor saham tiap hari," ujar Airlangga ditemui usai memimpin pertemuan bisnis bersama delegasi Jerman di kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Airlangga menjelaskan, di mata para pelaku usaha global, khususnya Jerman, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih dinilai sangat kokoh dan stabil. Posisi strategis Indonesia di kancah internasional bahkan kian diperhitungkan.
"Kalau kita bicara long-term, fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Bahkan Indonesia itu mereka katakan menjadi middle power yang semakin lama semakin penting," tutur Airlangga.
Baca Juga
Dari Kemitraan Strategis hingga IEU-CEPA, Steinmeier Optimistis Masa Depan Hubungan RI–Jerman
Airlangga menambahkan, pandangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi prioritas bagi Jerman untuk melanjutkan ekspansi investasinya.
Selama ini, hubungan dagang kedua negara didominasi oleh impor barang modal (capital goods) berteknologi tinggi dari Jerman ke Indonesia. Namun, saat ini telah terjadi pergeseran (shifting) di mana investasi langsung mulai ditanamkan di dalam negeri, dan tren positif inilah yang ingin terus didorong oleh pemerintah.
Dalam pertemuan strategis tersebut, pemerintah Indonesia juga menyampaikan permintaan spesifik kepada delegasi bisnis Jerman untuk memperkuat dan memperdalam ekosistem industri semikonduktor di tanah air.
Langkah ini dinilai strategis mengingat Jerman memiliki keunggulan komparatif yang sangat kuat di sektor teknologi tersebut. Terlebih, salah satu raksasa teknologi asal Jerman, Infineon, sudah lama beroperasi dan menanamkan investasinya di Pulau Batam.
Oleh karena itu, pemerintah secara spesifik meminta pendalaman ekosistem semikonduktor agar rantai pasok industri ini semakin kuat di Indonesia dari hulu ke hilir.
"Namun Indonesia secara spesifik minta untuk ekosistem semikonduktor, karena mereka masih kuat dan perusahaan Jerman sudah beroperasi di Indonesia juga di Pulau Batam yaitu Infineon. Jadi kita ingin agar ini diperdalam," ujar Airlangga.
Sebagai target terdekat, pemerintah akan kembali menggelar pertemuan dan pembahasan lanjutan guna mematangkan komitmen serta realisasi dari potensi investasi baru tersebut.
Saat ditanya mengenai nilai atau kepastian investasi baru yang akan masuk dalam waktu dekat, Menko Airlangga menyatakan bahwa hal tersebut masih dalam proses penggodokan. "Nanti kita akan bahas lagi," pungkasnya.

