Ketegangan Geopolitik Katrol Harga Minyak, Mata Uang Asia Termasuk Rupiah Kompak 'Keok'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Senin (8/6/2026) puul 09.01 WIB, rupiah bergerak melemah 0,44% ke posisi Rp 18.114 per dolar AS.
Serupa dengan Indonesia, sejumlah mata uang di Asia masih bergerak melemah. Yen Jepang melemah 0,93%, peso Filipina melemah 0,33%, dan baht Tailan melemah 0,19%.
Sementara itu, yuan China menguat 0,07%, rupee India 0,89%, dan dolar Singapura melemah 0,01%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke 100,07, mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir setelah data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Baca Juga
Rupiah Anjlok dan IHSG Jatuh 36%, Investor Repricing Risiko Indonesia?
Nonfarm payrolls AS bertambah 172.000 pada Mei, melampaui ekspektasi pasar, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi (CPI) AS bulan Mei yang akan diumumkan pada hari Rabu. Inflasi utama diperkirakan meningkat menjadi 4,2% secara tahunan dari 3,8% secara tahunan pada April. Jika terealisasi, hal ini dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun ini.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara baru ke Lebanon selama akhir pekan.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi ketidakstabilan yang lebih luas di kawasan. Harga minyak Brent kembali naik di atas US$ 95 per barel, meningkatkan risiko inflasi menjelang rilis data CPI AS minggu ini sekaligus mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

