Rupiah Melemah ke Rp 18.041 per Dolar AS, BI Optimistis Fundamental Tetap Kuat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 13.41 WIB, rupiah turun 0,41% ke level Rp18.041 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian di kawasan tersebut.
Menurut Destry, kondisi tersebut membuat harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global, sekaligus mendorong arus modal keluar dari negara-negara emerging market.
Baca Juga
Indonesia Tetap Emerging Market MSCI, Mengapa IHSG dan Rupiah Justru Babak Belur?
“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” kata Destry dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI memastikan akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai fundamentalnya.
Selain itu, BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market agar tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
Baca Juga
Kelas Menengah Menyusut Jadi 16,9 Persen, Kadin Soroti PR Besar Ekonomi Indonesia
Bank sentral menegaskan intervensi akan dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. “Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” ujar Destry.
BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah dilakukan dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga
IHSG Terkapar di 5.734, Kemenkeu Akan Terus Jaga Fundamental Ekonomi
Meski rupiah melemah, Destry menilai pergerakan mata uang Garuda masih sejalan dengan kondisi regional. Secara year to date, rupiah tercatat melemah 7,44%.
Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia masih terjaga kuat. “Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan stabilitas nilai tukar merupakan ranah Bank Indonesia. Namun, ia meyakini kondisi fundamental rupiah masih lebih kuat dibandingkan posisi saat ini di pasar. “Basically fundamental rupiah berada di level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” kata Purbaya di kompleks parlemen.

