Permintaan Mulai Pulih, Dorong Inflasi Inti
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Inflasi Indonesia pada Mei 2026 meningkat, namun masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali. Kenaikan inflasi kali ini tidak hanya dipicu oleh pangan bergejolak dan tekanan biaya, tetapi juga mulai mencerminkan pulihnya permintaan masyarakat, sebagaimana terlihat dari kenaikan inflasi inti.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08% year-on-year (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,40. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,28% month-to-month (mtm). Data tersebut dirilis BPS pada 2 Juni 2026. Bank Indonesia juga mencatat inflasi Mei 2026 tetap berada dalam sasaran inflasi, meski meningkat dibanding April 2026 sebesar 2,42% yoy. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Berdasarkan Regular Economic Update: Laporan Inflasi Indonesia Mei 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, Jakarta, Rabu (03/06/2026), kenaikan inflasi Mei terutama didorong oleh inflasi inti dan volatile inflation. Inflasi inti naik ke 2,59% yoy, sementara volatile inflation meningkat ke 6,24% yoy. Adapun administered inflation mulai ternormalisasi ke 2,07% yoy, setelah sempat melonjak pada kuartal I-2026 akibat efek basis rendah.
Kenaikan inflasi inti menjadi sinyal penting. Selama periode pascapandemi, inflasi inti Indonesia cenderung rendah dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi. Namun, pada Mei 2026, inflasi inti mulai bergerak naik. OCE BRI menilai perkembangan ini mengindikasikan mulai pulihnya permintaan domestik secara bertahap, meskipun dorongan permintaan belum kembali sepenuhnya ke pola normal sebelum pandemi.
Inflasi inti non-emas juga mulai meningkat. Namun, laporan BRI mencatat jarak antara inflasi inti total dan inflasi inti non-emas masih cukup lebar, menandakan sebagian kenaikan inflasi inti masih dipengaruhi oleh harga emas. Dengan demikian, pemulihan permintaan memang mulai terlihat, tetapi tekanan inflasi domestik masih banyak dipengaruhi faktor pasokan.
Dari sisi komponen pengeluaran, kenaikan harga pada Mei 2026 terjadi di mayoritas kelompok barang dan jasa. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 4,94% yoy, naik dari 3,06% yoy pada April 2026. Kelompok ini menjadi salah satu pendorong utama kenaikan inflasi karena harga sejumlah bahan pangan masih tinggi dan distribusi belum sepenuhnya normal.
Kelompok pakaian dan alas kaki mencatat inflasi 1,60% yoy, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,03% yoy, perlengkapan rumah tangga 0,98% yoy, serta kesehatan 1,70% yoy. Kelompok restoran juga naik menjadi 1,30% yoy, sedangkan perawatan pribadi dan jasa lainnya masih relatif tinggi di 9,24% yoy, meskipun lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Tekanan inflasi musiman atau volatile inflation terutama berasal dari pangan. Sejumlah harga bahan makanan domestik masih meningkat pada Mei 2026, seperti beras, daging sapi, bawang merah, cabai merah, minyak goreng, dan gula pasir. Cabai merah mencatat kenaikan paling tajam sebesar 21,38% mtm, sementara bawang merah naik 2,52% mtm, minyak goreng 2,14% mtm, beras 0,31% mtm, dan daging sapi 0,30% mtm. Namun, beberapa komoditas mulai turun, antara lain daging ayam, telur ayam, bawang putih, dan cabai rawit.
Sementara itu, inflasi yang berasal dari administered prices mulai mereda. Administered inflation turun dari 6,08% yoy pada kuartal I-2026 menjadi 2,07% yoy pada Mei 2026. Normalisasi ini menunjukkan tekanan dari harga yang diatur pemerintah mulai berkurang. Namun, kenaikan harga BBM non-subsidi tetap perlu dicermati, terutama Pertamina Dex yang naik 16,74% mtm menjadi Rp27.900 per liter. Kenaikan ini berpotensi menambah biaya transportasi dan distribusi, terutama untuk aktivitas logistik berbasis diesel non-subsidi.
Tekanan harga juga datang dari sisi global. Laporan BRI mencatat tekanan rantai pasok global kembali meningkat signifikan. Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI) naik ke 1,82 pada April 2026, tertinggi sejak Juli 2022. Baltic Dry Index dan Shanghai Containerized Freight Index juga melonjak, menunjukkan biaya logistik global kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi mendorong imported inflation, terutama jika pelemahan rupiah berlanjut.
Harga komoditas global bergerak bervariasi. Harga energi mulai turun pada Mei 2026, dengan Brent melemah 19,3% mtm ke US$92,1 per barel dan batu bara turun 2,1% mtm. Namun, harga energi masih relatif tinggi dibanding tahun sebelumnya. Di sisi pangan global, harga kedelai dan beras gabah meningkat, mengindikasikan tekanan biaya produksi dan distribusi berpotensi merambat ke harga pangan.
BRI memperkirakan inflasi Indonesia tetap terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia, meski tekanan meningkat. Inflasi diproyeksikan mencapai sekitar 3,43% yoy pada akhir 2026. Namun, risiko kenaikan tetap terbuka apabila tekanan harga pangan, biaya logistik, harga energi, dan nilai tukar kembali meningkat.
Bagi sektor perbankan, kenaikan inflasi membawa dua risiko utama: pertumbuhan kredit dapat tertahan dan risiko kualitas aset meningkat. Analisis OCE BRI menunjukkan kenaikan inflasi CPI sebesar 1 percentage point berpotensi menekan pertumbuhan kredit total sebesar 3,08 percentage points dalam 12 bulan ke depan.
Dampak terbesar terlihat pada segmen mikro dan kecil. Kenaikan inflasi 1 percentage point diperkirakan menekan kredit mikro hingga 9,12 percentage points dan kredit kecil 5,22 percentage points. Hal ini terjadi karena segmen UMKM lebih sensitif terhadap kenaikan harga. Inflasi dapat menekan daya beli masyarakat, mengurangi omzet pelaku usaha kecil, dan melemahkan kemampuan pembayaran debitur.
Risiko non-performing loan atau NPL juga berpotensi meningkat secara bertahap. Dalam horizon 12 bulan, respons kumulatif NPL mikro diperkirakan naik 0,83 percentage point, lebih tinggi dibanding kredit kecil 0,45 percentage point, total kredit 0,38 percentage point, kredit konsumsi 0,22 percentage point, dan kredit menengah 0,16 percentage point.
Dengan demikian, kenaikan inflasi Mei 2026 memberi pesan ganda. Di satu sisi, kenaikan inflasi inti menunjukkan permintaan masyarakat mulai pulih. Di sisi lain, tekanan pangan, biaya logistik, pelemahan rupiah, dan risiko imported inflation membuat perbankan harus lebih selektif menyalurkan kredit.
Perbankan perlu memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas portofolio, dan memberi perhatian khusus pada segmen mikro dan kecil. Inflasi yang terkendali dapat menjadi tanda pemulihan ekonomi. Namun, jika kenaikannya terlalu cepat dan tidak diimbangi peningkatan pendapatan masyarakat, inflasi justru dapat menekan konsumsi, memperlambat kredit, dan meningkatkan risiko kredit bermasalah.

