APBN Mulai Defisit Rp 0,7 Triliun Oktober 2023, Belanja Terkontraksi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani Indrawati menyebut realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Oktober 2023 mulai mencatatkan defisit sebesar Rp 0,7 triliun. Selain itu, belanja negara hingga Oktober 2023 yang tercatat Rp 2.240,77 triliun atau 73,2% dari pagu juga mengalami kontraksi 4,7% year on year (yoy). Sedangkan nilai realisasi pendapatan negara hingga Oktober 2023 lebih kecil yakni Rp 2.240,10 triliun (naik 2,79% yoy).
“APBN mulai defisit Rp 700 miliar atau 0,003% dari PDB (pendapatan domestik bruto). Sementara, realisasi pendapatan negara tersebut sudah sekitar 90,95% dari target APBN 2023,” kata Sri Mulyani, saat konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Jumat (24/11/2023).
Baca Juga
Menkeu Pamerkan Fiskal/APBN RI yang 'Prudent' di University of California Berkeley
Dari data Kemenkeu, realisasi belanja negara tersebut terdiri dari realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.572,23 triliun (69,99% dari pagu). Selain itu, realisasi transfer ke daerah Rp 668,55 triliun (atau 82,06% dari pagu).
Keseimbangan Primer Surplus
Menkeu menjelaskan lebih lanjut, dari sisi keseimbangan primer masih surplus. Keseimbangan primer ini merupakan total pendapatan negara dikurangi belanja, di luar pembayaran bunga utang.
Baca Juga
BI: Operasi Keuangan Pemerintah Ekspansi Rp 85 Triliun, Likuiditas Perekonomian Memadai
"Keseimbangan primer tercatat surplus sebesar Rp 365,4 triliun," kata Sri Mulyani. (CR-7)

