Panen Mundur dan Harga Beras Melambung, Ekonom Ingatkan Dampak Buruk
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat ekonomi Aviliani mengimbau agar pemerintah bisa segera menstabilkan harga beras, yang belakangan ini tengah melonjak terutama untuk jenis premium. Jika harga beras tidak dijaga dengan baik, Aviliani mengingatkan dampaknya pada peningkatan inflasi, yang hingga kini, telah berhasil dijaga oleh pemerintah pada sekitar 3%.
“Kenaikan harga pangan juga perlu dijaga, supaya tidak mendorong peningkatan inflasi. Karena, kita sudah bagus menjaga inflasi dan ditargetkan di 3%±1,” ucapnya saat ditemui pada talkshow ‘Geliat Ekonomi dan Retail Pasca Pemilu’, Jakarta, Jumat (23/02/2024).
Panen Mundur
Lebih lanjut, Aviliani menilai harga beras melonjak terutama karena suplai yang kurang. Hal itu lantaran masa panen raya yang mundur, dan diperkirakan baru dimulai pada Maret mendatang.
“Ternyata sisi suplai juga mengalami hambatan. Sehingga, perlu kerja sama pemerintah dengan pengusaha, terutama yang menyuplai beras premium,” tandas Aviliani.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebutkan, harga beras premium sudah melambung hingga melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 69.500 per 5 kilogram. Harga yang sudah di atas HET tersebut membuat pengusaha di tingkat ritel modern tidak menjual beras premium di toko swalayan.
“Ini (retail) enggak ngambil, karena beras premium itu harganya tinggi, tadi ada Rp 72.000 (per 5 kg), ada yang Rp 80.000, HET-nya Rp 69.500. Maka, ritel modern tidak menjual premium,” tuturnya.

