Sejak Januari 2026, Rupiah Melemah 6,7%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Pelemahan mata uang Garuda kini tidak lagi hanya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga meluas terhadap sejumlah mata uang utama dan regional, mulai dari dolar Singapura hingga ringgit Malaysia. Pada perdagangan Jumat (29/05/2026), dolar AS bergerak di kisaran Rp17.864–Rp17.900 per US$, mendekati level psikologis Rp17.900. Di pasar fisik atau money changer, harga jual bahkan dilaporkan mencapai Rp17.930 hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS.
Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, dolar AS memang masih menunjukkan dominasi terhadap sebagian besar mata uang dunia. Namun, cerita global sesungguhnya lebih kompleks: dolar tidak sepenuhnya perkasa dan justru melemah terhadap sejumlah mata uang kuat dunia.
Pada perdagangan. Jumat (29/05/2026), dolar Singapura (SGD) ditutup di sekitar Rp14.000 per SGD, menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah terhadap mata uang negeri tetangga tersebut. Kondisi serupa terjadi terhadap ringgit Malaysia (MYR) yang menembus level Rp4.500–Rp4.507 per MYR, juga menjadi rekor pelemahan rupiah terhadap ringgit.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa persoalan rupiah tidak semata soal lonjakan dolar AS, melainkan pelemahan yang lebih luas terhadap berbagai mata uang regional dan internasional. Data Datatrust yang dipublikasikan Investortrust.id pada Jumat, 30 Mei 2026 pukul 21.30 WIB dengan sumber Investing.com memperlihatkan rupiah menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terbesar terhadap dolar sepanjang tahun ini.
Secara mingguan (1 week), rupiah melemah 1,0%. Dalam satu bulan terakhir (1 month), depresiasi mencapai 3,1%. Sejak awal tahun (year-to-date/YTD), rupiah tertekan 6,7%, sementara dalam horizon satu tahun pelemahannya mencapai 8,8%. Posisi tersebut menempatkan rupiah di peringkat kedelapan mata uang dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS di antara negara-negara yang dipantau.
Tekanan rupiah bahkan lebih besar dibandingkan sejumlah mata uang Asia lain seperti won Korea Selatan yang melemah 4,4% YTD, peso Filipina 4,4%, yen Jepang 1,6%, dan dolar Taiwan 0,3%. Vietnam termasuk yang paling stabil dengan pelemahan hanya 0,1% sepanjang tahun.
Baca Juga
BI Tidak Bisa Sendirian Jaga Rupiah, Butuh Penyesuaian Kebijakan Fiskal
Di kelompok yang paling terpukul, bolivar Venezuela mencatat pelemahan ekstrem 45,5% YTD dan anjlok 82,4% dalam satu tahun. Disusul Ghana (-10,6%), Mesir (-8,7%), serta lira Turki (-6,0%). Sementara itu, Argentina menjadi anomali menarik. Meski peso masih melemah 15,6% dalam setahun, mata uang tersebut justru menguat 3,1% terhadap dolar sepanjang 2026.
Tekanan terhadap rupiah dan banyak mata uang negara berkembang dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, konflik Timur Tengah dan ketidakpastian negosiasi damai Iran meningkatkan permintaan terhadap aset aman (safe haven), sehingga menopang dolar AS. Pasar juga masih menghadapi ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut mendorong keluarnya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Laporan Reuters dan berbagai pelaku pasar internasional menunjukkan dolar AS sepanjang Mei 2026 bergerak fluktuatif namun tetap memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi Treasury serta permintaan lindung nilai di tengah risiko geopolitik.
Tekanan serupa terlihat di kawasan Asia. Reuters melaporkan rupee India sempat mendekati rekor terendah akibat lonjakan harga minyak dan ketidakpastian Timur Tengah, sementara peso Filipina serta beberapa mata uang Asia Tenggara lain ikut terkoreksi karena naiknya permintaan dolar.
Namun, penguatan dolar tidak bersifat universal. Dolar AS justru melemah terhadap sebagian mata uang kuat dunia, terutama di Eropa dan negara dengan fundamental eksternal yang lebih kuat. Reuters mencatat dolar menghadapi tekanan terhadap beberapa mata uang utama karena pasar mulai mencermati membengkaknya utang dan defisit fiskal AS serta prospek perlambatan ekonomi Amerika.
JPMorgan Asset Management dan Euroclear bahkan menilai dolar berpotensi melemah dalam jangka panjang akibat tekanan fiskal dan dinamika utang AS, meskipun dalam jangka pendek masih ditopang faktor geopolitik dan status safe haven.
Artinya, dolar kini menjadi “kisah dua sisi”: kuat terhadap banyak mata uang emerging markets dan negara pengimpor energi, tetapi tidak sepenuhnya dominan terhadap mata uang kuat dengan fondasi ekonomi yang lebih solid.
Bagi Indonesia, persoalannya menjadi lebih kompleks. Pasar tidak hanya melihat kekuatan dolar, tetapi juga mencermati faktor domestik seperti kekhawatiran terhadap prospek defisit fiskal APBN, tingginya kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri, serta sensitivitas ekonomi terhadap kenaikan harga energi. Permintaan dolar yang tinggi dari korporasi dan perdagangan internasional turut mempersempit ruang penguatan rupiah.
Pelemahan rupiah memang membawa dua sisi. Kurs yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing ekspor dan menopang pendapatan sektor berbasis dolar seperti batu bara, CPO, dan mineral. Namun depresiasi yang terlalu dalam meningkatkan biaya impor, mendorong imported inflation, memperbesar beban utang luar negeri, dan menambah tekanan terhadap subsidi energi.
Dengan dolar AS mendekati Rp17.900, dolar Singapura menyentuh Rp14.000, dan ringgit Malaysia menembus Rp4.500, perdagangan akhir Mei 2026 memberi pesan yang cukup jelas: persoalan rupiah kini bukan hanya soal dolar yang kuat, tetapi juga tentang ketahanan fundamental domestik Indonesia menghadapi dunia yang semakin volatil dan mata uang global yang bergerak tidak lagi satu arah.

