Inflasi Januari 2025 Secara Tahunan Lebih Rendah dari Januari 2024
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan pada Januari 2025 sebesar 0,76%. Inflasi terjadi seiring kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 105,19 pada Januari 2024 menjadi 105,99 pada Januari 2025.
Paparan Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menunjukkan inflasi tahunan pada Januari 2025 lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya atau Desember 2024 yang sebesar 1,57% dan bulan yang saya tahun sebelumnya atau Januari 2024 yang sebesar 2,61%.
Inflasi tahunan ini didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan laju inflasi sebesar 3,69% secara tahunan dengan andil 1,07%. Komoditas inflasi tahunan terbesar pada Januari 2025 yaitu minyak goreng dengan andil 0,14% dan sigaret kretek mesin dengan andil sebesar 0,12%.
“Komoditas lain yang memberikan andil inflasi cukup besar antara lain cabai rawit, kopi bubuk, dan beras,” kata dia.
Baca Juga
BPS: Inflasi Bulanan Komoditas Pangan Ini Tertinggi Selama 5 Tahun Terakhir
Komoditas lain yang memberikan andil inflasi tahunan pada Januari 2025 cukup besar antara lain emas perhiasan dengan andil inflasi 0,36%.
Sementara itu, untuk kelompok komoditas yang mengalami deflasi terdalam yaitu perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kelompok ini menyumbang andil deflasi 1,39%.
“Komoditas ini didorong diskon 50 atas tarif listrik pada Januari 2025,” ujar dia.
Tekanan inflasi tahunan pada Januari 2025 ini terjadi pada dua komponen utama yaitu komponen inti dan komponen harga bergejolak. Amalia mengatakan komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,36% dengan andil 1,51%. Adapun inflasi harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 7,22% dengan andil 0,51%.
“Untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi tahunan sebesar 6,41% dengan andil terhadap deflasi 1,26% dan komoditas yang dominan terhadap deflasi adalah tarif listrik,” kata dia.
Secara spasial, Amalia menyebut terjadi inflasi tahunan pada Januari 2025 di 30 provinsi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan yang sebesar 4,55% secara tahunan. Sementara itu, delapan provinsi mengalami deflasi dengan deflasi terdalam di Gorontalo sebesar 1,52%.

