Rapuhnya Rupiah, 10 Tahun Terakhir Terdepresiasi Sekitar 30%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah yang mengalami depresiasi terus menerus sepanjang Mei 2026 ini memunculkan tanda tanya besar. Seberapa rapuh mata Uang Garuda selama 10 tahun terakhir?
Mari beranjak sejenak ke periode Mei 2016. Satu tahun pascaterjadinya devaluasi yuan China, rupiah tercatat bertengger di posisi Rp 13.645 per dolar AS. Angka tersebut melonjak drastis ke kisaran Rp 17.800 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 30,45%.
Tentu ada sejumlah persoalan global yang dihadapi selama 10 tahun tersebut. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mencatat serangkaian masalah yang dihadapi perekonomian selama periode 2016 hingga Mei 2026. Pada 2018 misalnya, terjadi perang dagang dan sikap hawkish the Fed yang mengatrol suku bunganya ke 2,5%. Akibatnya, nilai tukar rupiah yang tercatat sebesar Rp 13.788 per dolar AS bergerak ke angka Rp 14.390 per dolar AS.
Pandemi terjadi. Rupiah bergerak menguat ke Rp 14.050 per dolar. Tetapi, sisanya adalah kontraksi yang dalam. Selama periode perang geopolitik, suku bunga tinggi, dan pemilihan pemimpin dunia yang serentak pada 2022-2024, posisi rupiah semakin tertekan. Rupiah bergerak di Rp 16.102 per dolar AS pada 2024.
Josua menyoroti volatilitas nilai tukar rupiah sangat tergantung dengan current account atau neraca berjalan Indonesia.
“Selama current account kita kuat, apapun volatilitas yang terjadi di pasar, di nilai tukar, ya harusnya kita akan lebih stabil,” ujar Josua beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS Pekan Depan, Ini Faktor Pemicunya
Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan tercatat US$ 4 miliar atau 1,1% dari PDB. Angka ini naik sekitar 96,27% secara tahunan karena defisit transaksi berjalan sebesar US$ 0,149 miliar pada kuartal I-2025. Sementara itu, berdasarkan secara kuartal, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 naik 60% secara kuartalan.
Persoalan yang melekat dari neraca berjalan ini terjadi di sendi-sendi pemerintah. Bagaimana Produk Domestik Bruto (PDB) digerakkan dari sisi kementerian/lembaga (K/L).
“Tanpa adanya nilai tambah dan tak memiliki pasar ekspor, current account kita nggak akan besar,” jelas dia.
Dari sisi struktural, Josua melihat daya saing investasi Indonesia tidak membaik kondisinya. Meskipun tidak lagi mengekspor bahan mentah, namun ekspor yang dihasilkan masih pada level kompleksitas rendah.
Defisit neraca berjalan ini menambah persoalan yang terjadi dalam perekonomian Indonesia. Sebab, sejak akhir 2025, Morgan Stanley Capital Index (MSCI) meminta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk menyesuaikan perhitungan float.
Menurut Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, pasar masih khawatir dengan kondisi domestik. Selain defisit transaksi berjalan, pasar juga mengkhawatirkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan ekspektasi suku bunga BI yang terkesan terlambat.
“Respons pemerintah memangkas anggaran yang juga dianggap telat, sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas, dan rencana ekspor satu pintu,” ujar Lukman.
Baca Juga
Dibuka Melemah, Rupiah Berpeluang 'Rebound' di Tengah Pelemahan Dolar AS
Di tengah Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian melihat sektor industri menghadapi tekanan cukup besar akibat tekanan dolar AS. Ini karena banyak sektor manufaktur yang masih tergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, dan pembiayaan. Ketika rupiah melemah dan imbal hasil surat utang tinggi, maka biaya produksi dan biaya pembiayaan naik bersamaan.
“Itu yang membuat tekanan terhadap sektor riil menjadi cukup berat,” kata Fakhrul.
Untuk itu, Fakhrul menyarankan dunia usaha untuk mulai lebih defensif, namun juga tetap oportunistik. Fokus yang perlu diperhatikan dunia usaha yaitu menjaga cash flow, memperkuat likuiditas, mengurangi mismatch valuta asing, dan memperkuat efisiensi operasional.
“Jangan terlalu agresif mengambil leverage valas di tengah volatilitas tinggi,” ujar dia.
Sementara itu, Fakhrul berpesan kepada pengambil kepentingan untuk peta jalan stabilisasi yang jelas. Selain itu, BI juga diharapkan tetap kredibel, fiscal stance yang lebih realistik, dan komunikasi kebijakan yang lebih kuat.
Ke depan, Fakhrul melihat rupiah akan memiliki ruang berbalik arah yang baik. Asalkan, bauran kebijakan yang baik dan pasar melihat burden sharing yang lebih seimbang antara fiskal dan moneter, maka rupiah berpotensi menguat signifikan ke kisaran Rp 16.800-17.000 per dolar AS.
“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibandingkan kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” jelas dia.

