Ekonom INDEF: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Perdagangan Emas Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat atau ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Hakam Naja menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perdagangan dan industri emas nasional. Hal ini dinilainya seiring adanya peningkatan permintaan masyarakat terhadap emas serta besarnya cadangan emas domestik.
Hakam Naja mengatakan, pasar emas Indonesia sebenarnya sudah terbentuk sejak lama. Kendati demikian, perkembangannya masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, hingga Singapura.
“Kalau dibandingkan Singapura, konsumsi emas kita mungkin baru sekitar 10%. Dengan Malaysia sekitar 20%, Thailand seperempatnya,” ujar Hakam Naja dalam seminar 'Penguatan Ekosistem Bullion Bank di Indonesia' yang digelar Investortrust.id, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Menurut Hakam Naja, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan emas yang besar, namun utilisasinya dinilai belum optimal.
Ia menilai emas kini tidak lagi sekadar komoditas fisik, tetapi telah berkembang menjadi instrumen keuangan, termasuk dalam ekosistem keuangan syariah. Produk tabungan emas dan bullion bank yang dikembangkan lembaga seperti PT Pegadaian dan BSI dinilai menjadi awal penguatan industri emas nasional.
Baca Juga
Ketimpangan Pajak Investasi Emas Dinilai Picu Arbitrase Pajak
"Padahal, dari segi potensi, emas itu kan tidak hanya komunitas, tidak hanya barang.Tetapi juga instrumen keuangan. Nah, ini sudah mulai dirambah Pegadaian dan BSI. Itu masuk ke wilayah instrumen keuangan," terangnya.
Ia mengungkapkan, perdagangan emas Indonesia banyak mengacu pada benchmark luar negeri karena Indonesia belum memiliki ekosistem bullion yang kuat. Padahal, Indonesia memiliki potensi untuk membangun pusat perdagangan emas sendiri melalui Indonesian Bullion Market Association.
“Dulu emas kita diolah di luar negeri dan perdagangan acuannya di Singapura. Sekarang momentumnya bagaimana kita menarik kembali perdagangan emas itu ke Indonesia,” pungkasnya.

