Sentimen Danantara dan Harga Minyak WTI Menguat, Pengamat Proyeksikan Rupiah Kembali Tertekan Pekan Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memberikan proyeksi terbaru mengenai pergerakan indeks dolar AS, harga minyak mentah dunia (WTI), serta nilai tukar rupiah untuk pekan terakhir bulan Mei. Menurut analisisnya, indeks dolar AS dan harga minyak mentah masih menunjukkan tren penguatan, sementara rupiah berpotensi mengalami tekanan yang cukup dalam.
Ibrahim menjelaskan bahwa indeks dolar diprediksi akan bergerak dalam rentang tertentu dengan kecenderungan tetap kuat di atas level psikologisnya.
"Mungkin diawali dari indeks dolar dulu. Indeks dolar dalam minggu terakhir, bulan Mei, tanggal 25 sampai tanggal 29, kemungkinan besar range-nya itu di 97.600, itu supportnya, ingat. Kemudian resistenya itu 101.00. Jadi ada indikasi bahwa indeks dolar ini masih akan di atas 100. Indikasi ya. Jadi prediksinya itu masih seperti kemarin, minggu-minggu kemarin, masih akan mengalami penguatan," ujar Ibrahim kepada investortrust.id, Minggu (24/5/2026).
Sejalan dengan kuatnya indeks dolar, harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) juga diperkirakan masih akan melanjutkan tren kenaikan, dengan batas resistansi mencapai lebih dari 105 dolar per barel.
"Kemudian untuk oil, ya, WTI crude oil, ini kemungkinan besar dalam minggu depan itu, supportnya itu di 92.600, 92.600 dolar per barrel, kemudian resistenya di 105 dolar per barrel. Ya, jadi 105.500, 105.500 dolar per barrel. Artinya bahwa harga minyak mentah, terutama adalah WTI, ini pun juga masih akan menguat di 105.500," lanjutnya.
Baca Juga
Di sisi lain, penguatan indeks dolar dan komoditas global ini diprediksi akan memberi tekanan yang signifikan terhadap mata uang Garuda. Ibrahim menyebutkan bahwa ada potensi nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level 18.000.
"Kemudian untuk rupiah sendiri, ada kemungkinan besar ini akan menuju level 18.000. Kemungkinan besar akan menuju di 18.000," ungkapnya.
Pelemahan Rupiah Bukan Kesalahan Bank Indonesia, Melainkan Masalah Struktural
Lebih lanjut, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini dinilai bukan disebabkan oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), melainkan akibat permasalahan struktural yang berada di luar kendali otoritas moneter. Ibrahim menjelaskan bahwa akar utama dari melemahnya mata uang Garuda adalah defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat jangka panjang.
"Ya pelemahan mata uang rupiah ini bukan merupakan kesalahan teknis moneter dari Bank Indonesia Tapi ini merupakan kesalahan struktural. Struktural di luar kendali otoritas moneter Jadi kalau kita lihat bahwa rupiah melemah itu bukan kesalahan teknis tetapi kesalahan struktural di luar kendali otoritas moneter. Akar permasalahan dari pelemahan mata uang rupiah itu adalah defisit neraca transaksi berjalan. Jadi defisit neraca transaksi berjalan ini yang bersifat struktural bukan temporer sehingga membuat rupiah melemah," jelas Ibrahim.
Menurut Ibrahim, defisit neraca transaksi berjalan yang kini mendekati level 3% dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar. Melambungnya harga minyak di atas 92 dolar per barel memaksa pemerintah menguras devisa dolar dalam jumlah besar, terutama karena adanya selisih yang lebar dari asumsi APBN 2026.
"Di APBN 2026 rupiah dipatok di Rp 16.500 kemudian minyaknya dipatok di Rp 70 per barrel. Sehingga apa? Ada selisih yang cukup tinggi. Di sisi lain, impor minyak yang Rp 1,5 juta per hari yang mungkin saya sebutkan setiap saya rilis itu 85% itu dijadikan BBM bersubsidi. Sehingga pemerintah ini banyak sekali mengeluarkan dolar yang cukup banyak. Kenaikan Rp 1 per barrel itu adalah diasumsikan Rp 4 triliun. Nah sehingga kebutuhannya cukup banyak," paparnya.
Untuk meredam pelemahan rupiah yang lebih dalam, Ibrahim menyebut pemerintah mulai mengambil langkah strategis dengan menunda sejumlah proyek nasional dan memangkas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) demi fokus pada penanganan impor minyak.
"Walaupun saat ini pemerintah sudah mendengarkan para ekonom dengan apa? Dengan mengurangi anggaran MBG. Ya ini sudah dikurangi. Kemudian proyek-proyek vital ya nasional yang besar-besarpun juga sudah ditunda. Tujuannya agar pemerintah akan fokus terhadap apa? Terhadap penanganan impor minyak yang begitu besar 1,5 juta barrel per hari. Nah ini yang fokus dari pemerintah Supaya apa? Supaya Rupiah tidak terus mengalami pelemahan," tambahnya.
Selain faktor komoditas, sentimen pasar global juga tertekan oleh rencana pengaktifan Badan Pengelola Investasi Danantara. Kebijakan satu pintu untuk komoditas ini rupanya memicu respons negatif dari lembaga pemeringkat internasional, yang berujung pada aksi ambil untung atau keluarnya modal asing (capital outflow).
"Nah di sisi lain pun juga Pidato Presiden kemarin ini tentang masalah komoditas yang akan melalui satu pintu Danantara ini pun mendapatkan respon negatif dari pemerintah internasional. Salah satunya adalah S&P Global Yang kemungkinan besar pada saat nanti Danantara ini diaktifkan. Kemungkinan besar S&P Global Ini akan menurunkan rating utang obligasi Indonesia. Nah ini yang ditakutkan oleh pasar. Sehingga apa? Sehingga rupiah kembali melemah disebabkan arus modal asing keluar cukup deras," pungkas Ibrahim.

