Rupiah Tembus Rp17.520: Sektor Pertanian Bisa Jadi Penyelamat Ekonomi Nasional”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pelemahan nilai tukar rupiah hingga berpotensi menembus level Rp17.522 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak selalu menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. Di tengah tekanan kurs dan kenaikan biaya impor, sektor pertanian justru disebut dapat menjadi penyelamat ekonomi Indonesia apabila dikelola secara cepat, terarah, dan strategis.
Pandangan itu disampaikan Devi Erna Rachmawati, Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian sekaligus Wakil Ketua Satgas Protein dan Ketua Umum Himpunan NEXTANI Indonesia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (13/05/2026). Menurut Devi, penguatan dolar AS memang akan membuat harga impor pangan, pupuk, dan bahan baku pertanian melonjak. Namun di sisi lain, kondisi tersebut dapat membuka peluang besar bagi penguatan produksi pangan domestik dan peningkatan ekspor sektor pertanian.
“Ketika dolar naik, negara pengimpor akan terpukul. Tetapi negara dengan sektor pertanian yang kuat justru bisa bangkit. Karena itu, krisis kurs harus diubah menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional berbasis pangan dan pertanian,” ujar Devi.
Ia menilai langkah paling mendesak adalah mempercepat swasembada pangan nasional, terutama untuk komoditas strategis seperti beras, kedelai, jagung, serta penguatan sumber protein nabati lokal. Pelemahan rupiah membuat impor pangan menjadi jauh lebih mahal sehingga Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri. Selain memperkuat produksi nasional, pemerintah juga dinilai perlu meningkatkan cadangan pangan strategis guna menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan domestik.
Devi juga menyoroti pentingnya hilirisasi sektor pertanian agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah. Menurut dia, peningkatan nilai tambah dalam negeri akan menjadi salah satu kunci menghadapi tekanan global. Ia mencontohkan singkong dapat diolah menjadi tepung mocaf, kedelai menjadi protein nabati, serta kelapa dan sawit dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti bioenergi dan oleochemical.
“Ketika dolar tinggi, produk olahan ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Ini peluang besar untuk meningkatkan devisa dan memperkuat industri pangan nasional,” katanya. Di sektor ekspor, pelemahan rupiah juga dinilai dapat menguntungkan eksportir karena pendapatan dalam dolar meningkat ketika dikonversi ke rupiah.
Baca Juga
Pertanian Jadi Penopang Utama Ekonomi Indonesia Kuartal I-2026
Devi menyebut sejumlah komoditas potensial seperti kopi, kakao, rempah-rempah, sawit, produk organik, dan hortikultura tropis memiliki peluang besar memperluas pasar ekspor. Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat pembukaan pasar baru, memperluas sertifikasi global, dan membangun branding pangan Indonesia di pasar internasional.
Selain itu, Devi menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor pupuk dan pakan ternak harus segera dikurangi. Saat dolar menguat, harga pupuk impor dan bahan baku pakan melonjak sehingga membebani biaya produksi petani dan peternak.
Sebagai solusi, ia mendorong pengembangan pupuk organik, biofertilizer, fermentasi pakan lokal, serta pertanian regeneratif yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan. “Momentum ini juga bisa membuka industri baru berbasis pertanian lokal dan bioeconomy,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, modernisasi pertanian juga dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas nasional. Devi mendorong percepatan penerapan smart farming, drone pertanian, precision agriculture, kecerdasan buatan (AI) pertanian, greenhouse modern, hingga digitalisasi distribusi pangan.
Menurut dia, modernisasi tersebut penting untuk meningkatkan produksi, menekan biaya, dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Pandangan serupa sebelumnya juga disampaikan sejumlah lembaga internasional. Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Bank dalam berbagai kajiannya menilai negara dengan basis pertanian kuat cenderung lebih tahan menghadapi gejolak global dan volatilitas mata uang dibanding negara yang sangat bergantung pada impor pangan.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia. Pada kuartal I-2026, sektor pertanian tumbuh sekitar 4,97% secara tahunan dan berkontribusi sekitar 12,67% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Devi menegaskan bahwa apabila momentum pelemahan rupiah dimanfaatkan dengan tepat, Indonesia berpeluang menjadi lumbung pangan Asia, pusat protein nabati tropis, sekaligus pemimpin bioeconomy di ASEAN.
“Strategi terbaik saat dolar tinggi adalah memperkuat produksi pangan nasional, mempercepat hilirisasi, dan membangun ekspor pertanian berbasis teknologi. Krisis kurs bisa berubah menjadi peluang besar jika pertanian dijadikan fondasi utama ekonomi nasional,” katanya.

