Menkeu Siapkan Stimulus Mobil Listrik dan Gaji ke-13 di Kuartal II-2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan akan mengeluarkan stimulus di kuartal II-2026. Salah satunya stimulus untuk mendorong peningkatan penjualan mobil listrik, serta stimulus lainnya berupa pemberian gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Kita sudah bicarakan itu (stimulus) mobil listrik, nanti ada gaji bulan ke-13. Mungkin nanti akan dibicarakan yang lain-lain,” kata Purbaya, Selasa (12/5/2026).
Purbaya mengatakan beberapa usulan lainnya sedang dalam pembahasan dengan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan Kementerian Perindustrian. Namun ia belum bisa menyebut bentuk stimulus lainnya yang akan dilansir, karena pemerintah masih dalam tahap mempelajari model dan perhitungannya.
“Nanti kita pikirkan, sedang dihitung,” ujar dia.
Menurut mantan Ketua LPS ini, insentif mobil listrik akan diberikan bagi pembelian 100.000 unit mobil. Dengan insentif ini, diharapkan pemerintah bisa ikut mendorong belanja masyarakat kelas menengah.
Selain itu, lanjut Purbaya, insentif bagi pembelian mobil listrik juga menjadi bagian dari upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Tingginya konsumsi bahan bakar minyak dipastikan bakal menimbulkan beban berupa kenaikan impor, di tengah tingginya harga minyak dunia akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berkepanjangan.
“Jadi kelihatannya perangnya masih panjang. Artinya konsumsi BBM kita juga masih tinggi dan dengan harga (impor) yang lebih tinggi. Jadi, kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor dengan signifikan,” jelas dia.
Baca Juga
Purbaya menjelaskan, insentif mobil listrik juga mempertimbangkan masih besarnya kapasitas listrik hasil produksi Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang cukup besar. Daya yang belum terpakai disebut-sebut menyentuh kisaran 30% dari daya yang tersedia.
“Yang jelas, ada listrik yang terpakai yang kita bayar. Saya mau pakai itu, supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM (konsumsinya) juga mengecil. Itu utamanya,” jelas dia.
Dalam perkiraan Purbaya, perang AS-Iran baru akan berakhir September 2026. Meski demikian, potensi perang berlanjut juga besar.
Dalam kesempatan berbeda, Purbaya juga menyebut akan memberikan dorongan ke sektor riil pada kuartal III dan IV. Selain insentif kendaraan listrik, pemerintah juga ingin memperbaiki akses pendanaan perusahaan di sektor tekstil, furnitur, dan sepatu yang berorientasi ekspor.
“Saya bisa masuk lewat Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia [LPEI]. Di situ uangnya juga banyak, sebagian nganggur selama ini,” jelas dia.
Dalam kesempatan yang berbeda pula, Kepala Makroekonomi dan Riset Pasar Bank Permata, Faisal Rachman mengatakan langkah pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi fiskal ini terlihat dominan dalam jangka pendek. Artinya, cara tersebut tak bisa terus menerus dilakukan ke depan.
“Kebijakan yang fiscal driven ke depan harus mampu menciptakan crowdingin private investment. Jangan sampai kebijakan pro-growth justru membuat investasi lebih terkonsentrasi pada sektor publik dan menimbulkan crowding out terhadap investasi swasta,” kata Faisal.
Faisal melihat ruang fiskal yang kuat dapat melemah pada kemudian hari. Di tengah harga komoditas yang tak menentu, Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah akan terbatas ruangnya.
Senada dengan Faisal, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan bahwa SAL tak bisa digunakan sebagai bantalan terus menerus. Penggunaan akan efektif ketika diarahkan secara selektif, terukur, dan memiliki strategi yang jelas.
“Misalnya untuk menenangkan pasar ketika terjadi kepanikan, memperlancar pembayaran subsidi dan kompensasi agar tidak menekan BUMN energi, serta menjaga belanja-belanja prioritas yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat,” ujar dia.

