Rupiah Melemah, Imbas Belum Tercapaianya Kesepakatan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terpantau melemah pada sesi perdagangan Senin (11/5/2026). Rupiah terdepresiasi 0,07% di posisi Rp 17.395 per US$ pada pukul 09.07 WIB, berdasarkan data Bloomberg.
Sejumlah mata uang di Asia melemah di hadapan dolar AS. Yen Jepang melemah 0,24%, rupee India melemah 0,12%, ringgit Malaysia juga melemah 0,14%, dan dolar Singapura melemah 0,13%, serta baht Tailan melemah 0,57%. Sementara itu, yuan China menguat 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa perkembangan di Timur Tengah yang terus mendominasi sentimen investor. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan tetap menjadi fokus pasar global setelah gencatan senjata AS-Iran beberapa kali terancam pekan lalu.
Andry mengatakan ketidakpastian masih berlanjut terkait seberapa cepat AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Washington menantikan respons dari Teheran pada Jumat terkait proposal untuk mengakhiri perang.
Ketidakpastian seputar konflik di Timur Tengah semakin meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaiannya “sama sekali tidak dapat diterima.”
Baca Juga
Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing Bayangi Saham Bank, Masih Layak Dipertahankan?
Selat Hormuz secara efektif masih tertutup sementara Washington dan Teheran terus berupaya mencapai resolusi diplomatik, menjaga harga energi tetap tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi. Investor juga menantikan data inflasi AS bulan April untuk melihat sejauh mana kenaikan harga minyak berdampak pada tekanan harga yang lebih luas di perekonomian.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,60 bps ke 4,35% mendekati level terendah dua minggu yang sempat disentuh awal pekan ini.
Dari sisi data ekonomi, perhatian tertuju pada inflasi konsumen dan produsen AS di tengah perbedaan pandangan di internal The Fed, serta data penjualan ritel dan produksi industri.

