Bagikan

Tingkatkan Yield SRBI, BI Yakinkan Investor Singapura Terkait Resiliensi Ekonomi Domestik


Poin Penting

Bank Indonesia perkuat stabilitas Rupiah melalui kenaikan yield SRBI untuk hadapi ketidakpastian geopolitik global.
Sinergi moneter-fiskal proyeksikan pertumbuhan ekonomi 4,9-5,7% dan inflasi tetap terkendali pada tahun 2026.
Implementasi integrated monetary policy mix menjadi strategi utama BI dalam menjaga resiliensi ekonomi domestik.

JAKARTA, Investortrust.id -- Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan komitmen otoritas moneter dalam memitigasi dampak ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Dalam pertemuan strategis dengan sejumlah investor di Singapura pada 28 April 2026, Perry menjelaskan bahwa Bank Indonesia secara konsisten menyesuaikan struktur suku bunga pasar melalui peningkatan imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Langkah taktis ini bertujuan untuk memperkuat daya tarik aset domestik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar kondisi ekonomi nasional tetap solid di tengah tekanan eksternal.

Menurut Perry, keyakinan investor menjadi fokus utama dalam komunikasi kebijakan yang dijalankan Bank Indonesia secara berkelanjutan.

Perry mengungkapkan bahwa kerangka kebijakan saat ini telah berevolusi dari berbagai pengalaman krisis masa lalu menjadi sebuah bauran kebijakan moneter terintegrasi yang mencakup tiga pilar utama.

Baca Juga

Menjaga Rupiah, BI Intensifkan Operasi Pasar

"Saat ini, Bank Indonesia mengimplementasikan integrated monetary policy mix yang terdiri dari tiga pilar utama. Pertama, kebijakan suku bunga untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam target. Kedua, stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas eksternal dan mencegah pelemahan Rupiah merambat ke kenaikan harga. Ketiga, pengelolaan likuiditas domestik untuk memastikan kecukupan likuiditas di sistem keuangan. Ketiga instrumen ini dijalankan bersamaan dan saling melengkapi, mencerminkan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap dinamika global," kata Perry dalam pernyataan resminya yang dikutip Sabtu (2/5/2026).

Resiliensi ekonomi Indonesia juga didukung oleh sinergi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga momentum pertumbuhan. Koordinasi yang kuat ini diproyeksikan mampu menjaga inflasi tahun 2026 tetap terkendali pada kisaran sasaran 2,5±1 persen, dengan laju pertumbuhan ekonomi yang diprediksi berada pada rentang 4,9% hingga 5,7%.

Selain aspek stabilitas, Bank Indonesia turut memperkuat kebijakan makroprudensial melalui insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) bagi sektor prioritas serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui pengembangan QRIS dan transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal.

Perry menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas mumpuni untuk menghadapi tekanan global berkat fondasi kebijakan yang matang dan kredibel. "Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas sebagai prioritas utama dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan yang data-dependent, forward-looking, dan responsif terhadap dinamika global," pungkasnya. Dengan fundamental yang kuat, Indonesia tetap memposisikan diri sebagai destinasi investasi yang menarik bagi para pemodal global di masa depan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024