Wamenkeu Juda Agung Tepis Kekhawatiran Pengamat soal APBN 2026 yang Jebol
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menepis kekhawatiran dari sejumlah pengamat yang mengkritisi kondisi APBN 2026. Beberapa pengamat mengkhawatirkan kondisi APBN 2026 akan jebol karena harus menanggung subsidi bahan bakar minyak (BBM), sembari menyebut angka Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang hanya tersisa Rp 120 triliun.
“Ini kok semua khawatir sehingga angka-angka yang keluar dari pengamat itu juga tidak tepat, katanya SAL-nya hanya Rp 120 triliun,” kata Juda saat peluncuran PINISI di Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (27/4/2026).
Juda mengatakan pemerintah merespons dengan baik kenaikan harga minyak mentah dunia dengan mempertahankan harga BBM subsidi. Langkah ini sebagai bentuk mengendalikan daya beli masyarakat.
“Caranya gimana? Caranya ya (menjaga) inflasi tidak naik, harga BBM yang kalau dinaikkan (dampaknya bisa) kemana-mana, itu dijaga (harganya) tetap. Subsidi membengkak tentu saja harus mengorbankan pengeluaran yang lain,” kata dia.
Juda menyebut pemerintah melakukan refocusing anggaran. Dia enggan menyebut langkah efisiensi karena ada kesan negatif pada pelaksanaannya tahun lalu.
Dengan refocusing, pemerintah akan tetap menjalankan berbagai proyek dan program prioritas pemerintah secara berkualitas dan lebih tajam. Salah satunya, mengilangkan pemberian program makan bergizi gratis (MBG) pada hari Sabtu.
Baca Juga
Soal Refocusing Anggaran, Purbaya Klaim Pangkas Sejumlah Belanja Operasional K/L
“Lima hari dalam seminggu, empat kali dalam sebulan itu bisa menghemat Rp 4 triliun. Setahun tentu saja lebih dari Rp 50 triliun kita bisa menghemat,” ujar dia.
Selain refocusing, pemerintah juga menajamkan penerimaan melalui Coretax. Termasuk mengoptimalkan windfall tax dari kenaikan harga komoditas seperti batubara dan CPO.
“Itu akan mengurangi atau meningkatkan penerimaan dan mengurangi risiko defisit melampaui 3% [dari PDB]” ucap dia.
Untuk kemandirian energi, kata Juda, pemerintah akan mengoptimalkan penggunaan biodiesel B50 dan bioethanol. Termasuk, memaksimalkan prioritas nasional lain seperti Sekolah Garuda.
“APBN tentu saja diorientasikan pada program-program yang bersifat public goods dan mendorong kesejahteraan sosial,” ujar dia.

