Kemenkeu Klarifikasi Hoaks APBN Tipis dan Rupiah Rp20.000: Pastikan Kondisi Aman
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Keuangan kembali menyampaikan adanya upaya penyebaran informasi salah atau hoaks di media sosial yang mengatasnamakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Berita yang beredar di akun TikTok tersebut menyebutkan bahwa APBN RI makin tipis, dan kesehatan keuangan nasional yang telah memunculkan kalkulasi independen yang menyoroti potensi tekanan likuiditas dalam jangka pendek.
Bahkan dalam akun tersebut disebutkan jika keseimbangan kas ini tidak segera diperkuat, kemampuan anggaran negara dalam menjaga momentum pertumbuhan di kuartal mendatang dikhawatirkan akan menemui tantangan besar.
Menanggapi postingan di TikTok yang menggunakan akun investoria.id tersebut, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa informasi yang disampaikan oleh akun tersebut merupakan informasi yang salah, menyesatkan atau hoaks.
“Berita yang beredar mengenai APBN RI hanya cukup untuk 3 bulan dan rupiah bisa menyentuh Rp 20.000 per dollar AS merupakan berita hoaks,” demikian keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan, Kamis (23/4/32026).
“Masyarakat diharapkan waspada terhadap penyebaran berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Keuangan Purbaya,” imbuh Kemenkeu dalam keterangan resminya.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Keuangan secara resmi mengimbau masyarakat untuk mewaspadai segala bentuk potensi penipuan yang muncul dan dibuat lewat platform media sosial.
Baca Juga
Tolak Tawaran Utang IMF-Bank Dunia, Purbaya Klaim APBN Masih Kuat
APBN solid
Sebelumnya dalam kesmpatan paparan APBNKiTA awal April lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tetap solid dan mampu menjadi shock absorber di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (6/4), Menkeu memaparkan kinerja positif ekonomi nasional yang didukung oleh pertumbuhan penerimaan negara yang kuat pada triwulan I 2026.
Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun, atau tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan pendapatan ini utamanya didorong oleh sektor perpajakan yang menunjukkan kualitas basis pajak yang semakin kuat dan pertumbuhan penerimaan pajak secara keseluruhan sebesar 20,7 persen (yoy).
Secara rinci, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mencatatkan pertumbuhan drastis hingga 57,7 persen. Angka ini mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas ekonomi riil di masyarakat. Selain itu, PPh Orang Pribadi (Pasal 21) juga naik 15,8 persen, yang mencerminkan perbaikan kesejahteraan serta peningkatan kepatuhan wajib pajak pasca implementasi sistem Coretax.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target APBN. Meski PNBP terkontraksi 3 persen akibat fluktuasi harga komoditas di awal tahun, namun capaiannya dinilai masih sesuai jalur.
Terkait belanja, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 31,4 persen (yoy), dengan defisit APBN hingga triwulan I terjaga di level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menkeu menekankan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi mitigasi risiko untuk menjaga stabilitas harga energi. "Kami siap menjaga harga BBM bersubsidi tetap tidak naik hingga akhir tahun 2026. Langkah ini tetap aman bahkan jika asumsi harga minyak mentah dunia mencapai rata-rata 100 dollar AS per barrel," tegas Menteri Keuangan.
Kekuatan fiskal ini didukung oleh adanya cadangan atau "bantalan" berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang siap digunakan untuk mengantisipasi gejolak ekonomi ekstrem.

